Jumat, 16 November 2018

Perusakan Kapel Santo Zakaria, Polri: Bukan Masalah Agama

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Brimob Polda Bali melakukan penyisiran menjelang kebaktian malam Natal di Gereja Katedral Denpasar, 24 Desember 2016. Pengamanan Natal di Bali melibatkan 2.378 petugas gabungan termasuk pengamanan internal tempat ibadah dan pengamanan dari desa adat setempat. ANTARA/Nyoman Budhiana

    Anggota Brimob Polda Bali melakukan penyisiran menjelang kebaktian malam Natal di Gereja Katedral Denpasar, 24 Desember 2016. Pengamanan Natal di Bali melibatkan 2.378 petugas gabungan termasuk pengamanan internal tempat ibadah dan pengamanan dari desa adat setempat. ANTARA/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusakan kapel Santo Zakaria di Desa Mekar Sari Kecamatan Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, mulai menemui titik terang. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan perusakan itu bukan dipicu masalah agama.

    "Itu adalah masalah residu dari pemilihan kepala desa, ada orang tidak puas," kata Setyo saat ditemui di Mabes Polri, Kamis, 15 Maret 2018.

    Baca: Perusakan Rumah Ibadah, Gubernur Alex Noerdin: Murni Kriminal

    Saat ini, kata Setyo, polisi masih terus menyelidiki perusakan rumah ibadah umat Kristen itu. Para pelaku yang diduga melakukan perusakan juga masih dalam penyelidikan.

    Kapel Santo Zakaria dirusak sekelompok orang tidak dikenal pada Kamis, 8 Maret 2018. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB.

    Baca: Cerita Saksi Soal Detik-detik Perusakan Kapel Santo Zakaria

    Saat itu, sekelompok orang menggunakan sepeda motor datang ke lokasi kapel. Kemudian pelaku langsung mendobrak dan menghancurkan pintu depan kapel serta jendela secara membabi buta. Tak hanya itu, kursi di dalam rumah ibadah itu juga dirusak.

    Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin telah menyampaikan perusakan rumah ibadah ini tak terkait dengan agama, melainkan murni kriminal biasa. Ia menegaskan pelaku akan dikejar. “Kita selama ini bangga dengan zero konflik di Sumsel (Sumatera Selatan). Ini ada yang mau coba-coba merusak. Kapolda sudah menjelaskan, pelaku akan dikejar,” katanya. Saat ini, kondisi di sektar kapel Santo Zakaria sudah kondusif.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.