Fredrich Yunadi Minta Sidang 3 Kali Sepekan, Hakim Menolak

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka penghalang penyidikan Fredrich Yunadi usai sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, 22 Februari 2018. TEMPO/Zara Amelia

    Tersangka penghalang penyidikan Fredrich Yunadi usai sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, 22 Februari 2018. TEMPO/Zara Amelia

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kasus perintangan penyidikan kasus Setya Novanto, Fredrich Yunadi, meminta persidangan kasusnya dilakukan tiga kali sepekan. Menurut dia, jadwal persidangannya selama ini, yang hanya sepekan sekali, terlalu lama.

    "Seminggu sekali terlalu lama, kami mohon izin," katanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Maret 2018.

    Baca juga: Jaksa KPK Protes Merasa Dilecehkan Fredrich Yunadi

    Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Hakim Syaifudin Zuhri menolak permohonan Fredrich. Dia membuka kemungkinan melakukan sidang dua kali sepekan, tapi untuk sementara jadwal sidang tetap sepekan sekali. "Untuk sementara, seminggu sekali," ujar Syaifudin.

    Seusai persidangan, Frederich mengusulkan penambahan jadwal sidang untuk mempercepat proses sidang. Dia bilang makin cepat sidang selesai, makin cepat pula dia bisa membongkar rekayasa kasusnya.

    Fredrich merupakan bekas pengacara Setya Novanto. Dia didakwa merintangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan memanipulasi data medis bersama dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, Bimanesh Sutarjo, setelah Setya kecelakaan di Permata Hijau, Jakarta.

    Fredrich Yunadi ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu, 10 Januari 2018. Ia ditahan di rumah tahanan yang sama dengan Setya sejak Sabtu, 13 Januari. Sidang perkaranya dimulai pada Kamis, 8 Februari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.