Selasa, 26 Juni 2018

Diam-diam Muhaimin Lamar Jokowi, Ajukan Proposal Sebagai Cawapres

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhaimin masih menunggu pertimbangan para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama untuk menentukan sikap.

    Muhaimin masih menunggu pertimbangan para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama untuk menentukan sikap.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mengungkapkan dirinya mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden untuk Joko Widodo.

    "Proposal politik yang saya ajukan adalah sebagai cawapres Jokowi, yang sampai saat ini menjadi satu-satunya capres yang sudah muncul," ujar Muhaimin Iskandar yang biasa disapa Cak Imin, saat pertemuan dan ngopi santai dengan pimpinan media, di Jakarta Rabu 14 Maret 2018. Dalam pertemuan itu Muhaimin didampingi sejumlah petinggi PKB.

    Baca juga: Pengamat Sebut Muhaimin Iskandar Terlalu Pede Jadi Cawapres

    Cak Imin mengawali pembicaraan dengan mengaku secara resmi mencalonkan diri sebagai cawapres.
    "Hari ini untuk pertama kalinya saya secara resmi ngaku sebagai cawapres. Selama ini saya belum pernah ngaku meskipun iklan bilboard saya sebagai cawapres ada di mana-mana," katanya.

    Ditanya mengapa lebih memilih menjadi cawapres untuk Capres Jokowi pada Pilpres 2019, Cak Imin dengan santai menjawab," Selama ini saya sudah menjadi bagian dari Pak Jokowi, sebagai partai koalisi pemerintah."

    Dia mengaku sangat optimistis Jokowi akan memilih dirinya sebagai cawapres karena PKB merupakan partai yang meraih 9,04 persen suara atau sekitar 11,2 juta orang pemilih pada pemilu legislatif 2014.

    Cak Imin berpendapat, untuk memenangkan Pilpres 2019, Jokowi hanya punya dua pilihan. Pertama, mengambil suara dari kalangan Islam atau, kedua, dengan nekat sekalian mengambil cawapres dari kalangan ekonom murni yang berarti mengandalkan elektabilitas Jokowi saja.

    BACA: Jokowi Belum Tentu Meminang Muhaimin Iskandar Jadi Cawapres 2019

    "Tetapi saya kira opsi kedua tersebut sangat rawan. Jadi pilihan paling rasional adalah memilih saya sebagai cawapres," kata Cak Imin sambil tertawa.

    Dia menilai gairah dan ekspresi keislaman sangat kuat pada Pilpres 2019 yang harus diperhitungkan Jokowi.

    Gairah keislaman tersebut semakin menguat sejak aksi 212 di Jakarta dan semakin luas ke daerah. Selain itu, di tengah masyarakat simbol-simbol keislaman juga semakin membutuhkan perhatian.

    BACA: Cak Imin Jadi Cawapres, Said Aqil: Kalau Jokowi Tak Memilih, Mau Apa?

    "Dalam konteks ini PKB mampu menjembatani antara gairah politik dan ekspresi keislaman," jelasnya.

    Muhaimin menegaskan jika Jokowi salah memilih cawapres, maka sulit memenangkan Pilpres. "Bagi saya Jokowi harus menang di Pilpres. Oleh sebab itu, cawapres yang dipilih harus benar-benar tepat," ujarnya.

    "Saya nanti akan meluncurkan konsep Soedurisme yakni penggabungan antara Soekarnoisme dan Gusdurisme. Ini adalah konsep nasionalisme dan keislaman," kata Muhaimin.


     

     

    Lihat Juga