Jusuf Kalla Cerita Persaingan dengan Alwi Hamu dan Aksa Mahmud

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato usai menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, 25 Januari 2018. Tim Media Setwapres

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato usai menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, 25 Januari 2018. Tim Media Setwapres

    TEMPO.CO, Makassar - Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan gedung baru Universitas Fajar (UNIFA) Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 26 Januari 2018. Dalam sambutannya, Kalla bernostalgia masa-masa saat masih menyandang status mahasiswa bersama Alwi Hamu yang kini menjadi Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Fajar Ujungpandang dan pengusaha Aksa Mahmud.

    Saat itu, JK menceritakan bahwa ketiganya merupakan aktivis kampus yang memiliki gerakan kemahasiswaan. Namun, seiring berjalannya waktu, gerakan tersebut berubah menjadi gerakan ekonomi. "Jadi bagaimana sesuatu kekuatan, pengalaman, semangat, jangan mahasiswa kerjaan demo sampai akhir tidak ada berakhirnya. Kita pada waktunya mulai, pada waktunya berakhir, kita memulai tahap baru," kata JK.

    Baca juga: Dapat Gelar Honoris Causa, Wapres JK Pidato Soal Penyebab Konflik

    Menurut JK, ketiganya saat itu masih berjalan bersama-sama di dunia usaha. Kemudian, setelah masing-masing memiliki usaha sendiri, ketiganya kerap membandingkan tinggi gedung yang mereka miliki. JK memiliki Wisma Kalla, Alwi memiliki gedung Graha Pena, dan Aksa yang memiliki Bosowa Corp.

    "Selalu Alwi mengklaim paling tinggi karena ada antenanya. Bukan tingkatannya penting, tapi antenanya penting. Jadi ukurannya di situ," kata Kalla sambil berguyon.

    JK menyampaikan, maksud dari ceritanya itu ialah pentingnya memiliki tekad. Berkaca dari pengalaman ketiganya dulu, JK mengingatkan para mahasiswa saat ini untuk tidak menjadi aktivis sampai tua. Sebab, pada waktunya, mereka harus membangun negeri bersama-sama.

    "Kita berhenti pada saatnya, kita bngun negeri ini dengan kebersamaan. Kita bangun negeri dengan pengalaman-pengalaman yang ada. Kembali lagi berpikir bagaimana kita bangun masa depan bangsa," ucap Jusuf Kalla.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menurut WHO, Kanker Membunuh 8 Juta Orang Selama 2018

    Menurut WHO, kanker menjadi pembunuh nomor wahid. Penyakit yang disebabkan faktor genetis dan gaya hidup buruk itu membunuh 8 juta orang selama 2018.