Anggota Wantimpres Agum Gumelar, Kiprahnya di Militer dan Sipil

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Idrus Marham, Moeldoko, Agum Gumelar, dan Yuyu Sutisna menunggu prosesi pelantikan mereka yang akan dipimpin Presiden Joko Widodo (Istman /Tempo)

    Idrus Marham, Moeldoko, Agum Gumelar, dan Yuyu Sutisna menunggu prosesi pelantikan mereka yang akan dipimpin Presiden Joko Widodo (Istman /Tempo)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jenderal Purnawirawan Agum Gumelar, 72 tahun, yang dilantik Presiden Jokowi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menggantikan almarhum KH. Ahmad Hasyim Muzadi, kaya pengalaman di bidang militer, sipil, hingga mengurus sepak bola. Karirnya dimulai sejak lulus Akademi Militer Nasional Magelang 1969.

    Agum staf Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban atau Koptamtib dan masuk pula pada Badan Koordinasi Intelijen Negara pada 1973. Ia Wakil Asintel Kopassus periode 1988-1990, lalu Asintel Kasdam Jaya periode 1991-1992.

    Baca:Presiden Jokowi Reshuffle Kabinet Pagi Ini

    Dia Wakil Asintel Kopassus pada 1987-1988, dan menjadi Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung 1992-1993. Mantan Ajudan Ali Murtopo itu menjadi Kasdam I Bukit Barisan sampai 1996. Baru sekitar 1996, ia ditarik ke ibukota menjadi staf ahli Panglima ABRI.

    Pernah menjabat Direktur Badan Intelijen Strategis ABRI, tugas terakhirnya di bidang militer ialah memimpin Kodam Waribuana VII. Pada 1998 ia kembali ke Jakarta dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Lemhanas. Sejak itu ia pensiun dari dunia militer.

    Setelah masa reformasi melengserkan Presiden Soeharto, karir politik Agum cukup cemerlang. Pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, Agum Gumelar menjabat sebagai Menteri Perhubungan Indonesia, periode 26 Oktober 1999 sampai 1 Juni 2001.

    Baca juga: Anggota Wantimpres Minta TNI Batalkan Nonton ...

    Pada masa itu, Agum Gumelar terseret kasus Lippogate. Sejumlah pengusaha besar di Indonesia seperti Anthony Salim, Soedono Salim, Muchtar Riady, dan Prajogo Pangestu, juga Agum Gumelar disebut-sebut bersamaan dengan mengalirnya dana untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Kasus ini menjadi perbincangan publik pada September 1999. Agum tidak berkomentar banyak dan menepis isu yang melibatkannya.

    Agum Gumelar disebut-sebut menjalin kontak politik dengan PDIP sejak masih di dunia militer. Kedekatannya menyebabkan Agum Gumelar dicap sebagai simpatisan setia PDIP. 

    Pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, Agum menjadi Menteri Koordinasi Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Republik Indonesia. Tak lama, hanya pada 1 Juni 2001 sampai 9 Agustus 2001. Sebelumnya, posisi ini dijabat Susilo Bambang Yudhoyono.

    Saat Gus Dur lengser, ia menjabat Menteri Perhubungan di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri.

    Simak: Cerita Agum Gumelar Ada Oknum TNI Tak Akui ...

    Pada 2004, Agum Gumelar maju sebagai calon wakil presiden usungan Partai Persatuan Pembangunan bersama Hamzah Haz sebagai calon presiden. Namun di putaran pertama pemilu, pasangan itu meraih hanya 3,01 persen jumlah suara. Pada 2008, Agum Gumelar juga sempat dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim, namun gagal juga.

    Di bidang olah raga, pada 2011, Agum Gumelar ditunjuk organisasi sepak bola dunia, FIFA sebagai Ketua Komite Normalisiasi untuk mengatasi kisruh dalam tubuh PSSI. Ketika beredar kabar PSSI akan dibekukan oleh pemerintah, Agum meminta Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mengaktifkannya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.