Muda Ikhsan Akui Pinjamkan Rekening untuk Keponakan Setya Novanto

Karyawan swasta Muda Ikhsan Harahap (tengah) berlari menghindari wartawan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 26 Juli 2017. KPK memeriksa Muda Ikhsan Harahap sebagai saksi untuk tersangka Setya Novanto dalam penyidikan tindak pidana korupsi kasus kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum KPK dalam sidang lanjutan untuk terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto mengakui pernah meminjamkan rekeningnya di Singapura untuk keponakan Setya, Irvanto Pambudi Cahyo. Saksi tersebut adalah Muda Ikhsan Harahap, seorang pengusaha.

Ikhsan mengatakan bahwa Irvanto ingin meminjam rekeningnya karena seorang teman akan mengirimkan uang. Uang sekitar Sing$ 300 ribu itu ditransfer pada Desember 2012.

"San pinjem rekening, ada temen gue orang Singapura, mau transfer," kata Ikhsan menirukan Irvanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat pada Kamis, 11 Januari 2018.

Baca: Keponakan Setya Novanto Barter Dolar di Money Changer

Ikhsan mengaku tidak mengetahui jelas nama teman Irvanto yang dimaksud. Dia hanya mendengar bahwa Irvanto menyebut nama Agung, dan baru diketahui sebagai Made Oka Masagung ketika Ikhsan diperiksa oleh KPK.

Dalam persidangan, Ikhsan mengaku memberikan rekeningnya kepada Irvanto karena mereka berteman. Dia tidak tahu tentang Made Oka Masagung. Kepada Ikhsan, Irvanto mengatakan berencana mengambil uang tersebut di Singapura, namun tidak jadi.

Setelah uang ditransfer oleh Made Oka Masagung, Ikhsan kemudian memberikan uang tersebut kepada Irvanto di rumah Irvanto di sekitar wilayah Kelapa Hijau, Jakarta Selatan. Ikhsan memberikan uang secara tunai setelah dia menariknya dari rekening. "Setelah kasih ke Irvanto, paginya saya pulang ke Singapura," kata Ikhsan.

Baca: Soal Baju di Sidang, Setya Novanto: Dibawain Batik Cuma Satu

Nama Ikhsan yang disebut sebagai penampung dana dalam proyek e-KTP bukan hal baru. Karena seringnya nama dia disebut sebagai penampung dana, kepada majelis hakim dia mengaku jera. "Saya kapok yang Mulia," kata Ikhsan.

Ikhsan disebut menampung uang dari Johannes Marliem untuk Ketua Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat Chairuman Harahap. Uang itu diberikan sebagai imbalan karena Biomorf Lone memenangi proyek e-KTP.

Dalam dokumen hasil penyelidikan Federal Bureau of Investigation (FBI) yang disampaikan di Pengadilan Minnesota, Amerika Serikat, mengungkap pernyataan Marliem yang pernah mengirim US$ 700 ribu ke Ikhsan. Pengiriman duit sekitar Rp 6,97 miliar (kurs saat itu Rp 9.970) itu dilakukan pada 3 September 2012.

Saat bersaksi dalam sidang korupsi e-KTP dengan terpidana Andi Agustinus, Ikhsan juga mengakui adanya aliran dana yang masuk ke rekeningnya dari Dedi Priyono, kakak Andi Agustinus. Dia menerima imbalan Rp 10 juta karena menyediakan rekening penampung.

Ikhsan mengakui ada tiga transaksi yang masuk rekeningnya. Pertama, US$ 50 ribu dari PT Noah Arkindo, perusahaan penyedia printer dalam proyek e-KTP, pada 13 Desember 2011. Kedua, US$ 29 ribu atau setara dengan Rp 391 juta dari PT Noah Arkindo pada 24 Februari 2012. Transaksi ketiga adalah US$ 700 ribu dari Biomorf Mauritius pada 12 Maret 2012.






Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

11 hari lalu

Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

Rekam jejak DPR, sudah beberapa anggota DPR yang dilaporkan kepada MKD. Setelah Setya Novanto dan Harvey Malaiholo, ada Puan dan Effendi Simbolon.


Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

45 hari lalu

Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

Tak semua orang yang mengajukan sebagai Justice Collaborator diterima. Berikut beberapa orang yang pernah ditolak permohonannya.


Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

Satgas BLBI menyatakan aset milik Bank Aspac yang disita mencapai Rp 2 triliun.


Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

Satgas BLBI menyita aset obligos PT Bank Aspac di Bogor hari ini. Satu dari dua pemilik bank tersebut merupakan besar mantan Ketua DPR Setya Novanto.


Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

15 Mei 2022

Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

Kedua obligor BLBI ini menggugat Kementerian Keuangan dan meminta pengadilan menyatakan mereka bukan penanggung utang Bank Aspac.


KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

21 Maret 2022

KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

KPK melanjutkan penyidikan kasus korupsi e-KTP untuk tersangka Paulus Tannos.


KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

12 Maret 2022

KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

Alex mengatakan KPK perlu mengetahui tindak pidana muasal Setya Novanto yang sedang disidik Bareskrim.


Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

2 Maret 2022

Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

Dirjen Lapas membenarkan Setya Novanto sempat berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin.


KPK Tahan 2 Tersangka Korupsi E-KTP

3 Februari 2022

KPK Tahan 2 Tersangka Korupsi E-KTP

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan dua tersangka dalam kasus korupsi e-KTP.


KPK Sebut Tak Punya Akun NFT Jualan Foto Koruptor

19 Januari 2022

KPK Sebut Tak Punya Akun NFT Jualan Foto Koruptor

KPK menyatakan juga tidak pernah melakukan kegiatan bersifat komersial untuk memperoleh keuntungan, seperti membuat akun NFT.