Meletus Lagi, Gunung Sinabung Luncurkan Awan Panas 4,6 Km

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Sinabung sedang erupsi di Karo, Sumatera Utara, pada 3 November 2017. AFP/Ivan Damanik

    Gunung Sinabung sedang erupsi di Karo, Sumatera Utara, pada 3 November 2017. AFP/Ivan Damanik

    TEMPO.CO, JakartaGunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, kembali meletus dengan amplitudo 120 milimeter dan durasi 500 detik pada pukul 15.36 hari ini. Dari pantauan pos pengamatan Gunung Sinabung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan disertai dengan awan panas guguran dengan jarak luncur 3.500 meter ke arah tenggara-timur dan 4.600 meter ke arah selatan-tenggara.

    "Angin bertiup ke arah timur-tenggara," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, yang diterima Tempo, Rabu, 27 Desember 2017.

    Baca juga: Pembangunan Rumah Pengungsi Sinabung Dikebut

    Sutopo mengatakan asap yang keluar dari kawah Sinabung disertai dengan abu vulkanik kelabu hitam bertekanan sedang hingga kuat. Hujan abu vulkanik jatuh di beberapa desa di sekitar Gunung Sinabung, di antaranya Desa Sukanalu, Kota Tonggal, Kuta Tengah, Gamber, Berastepu, Jeraya, Pintu Besi, dan beberapa desa lain di sektor timur.

    Menurut rekomendasi PVMBG, masyarakat dan pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak, 7 kilometer untuk sektor selatan-tenggara, 6 kilometer untuk sektor tenggara-timur, serta 4 kilometer untuk sektor utara-timur Gunung Sinabung.

    Sejak ditetapkan status awas atau level 4 pada 2 Juni 2015, aktivitas Gunung Sinabung tetap tinggi. Untuk letusan kali ini, BNPB mencatat tidak ada korban jiwa. Sutopo menuturkan letusan juga tidak menyebabkan kepanikan masyarakat. "Karena hampir setiap hari Gunung Sinabung meletus," ujarnya.

    Namun Sutopo mengimbau masyarakat tetap mewaspadai ancaman bahaya lahar. Menurut dia, telah terbentuk bendungan alam di hulu Sungai Laborus. Dia berujar bendungan itu sewaktu-waktu dapat jebol jika tidak dapat menampung volume air, yang dapat menyebabkan banjir lahar di hilir sungai. "Penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan," ucapnya.

    Baca juga: Kondisi Ribuan Warga di 10 Desa Terdampak Erupsi Gunung Sinabung  

    Meletusnya Gunung Sinabung yang terus berkelanjutan menyebabkan kawasan rawan bencana meluas dan beberapa desa-desa tidak boleh ditempati lagi. Sebanyak 3.331 keluarga harus direlokasi.

    Menurut Sutopo, 370 keluarga warga dari Desa Bekerah, Simacem, dan Sukameriah sudah direlokasi ke kawasan Siosar. Sebanyak 1.863 keluarga dalam proses relokasi mandiri dan diharapkan selesai pada awal 2018. Sedangkan 1.098 keluarga akan direlokasi ke kawasan Siosar, yang ditargetkan selesai pada 2018. "Sementara itu, bagi pengungsi yang tidak harus direlokasi, pemerintah telah membangun 348 unit hunian sementara. Tidak ada pengungsi di tenda-tenda," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.