Tiga Ancaman Bagi Pengurus Baru Partai Golkar Menurut LSI

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian yang juga bakal calon Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kiri), Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung (tengah), Inisiator Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia (kedua kanan), Politisi Senior Partai Golkar Abdul Gafur (kanan) dan kader Partai Golkar Yorrys Raweyai (kiri) menghadiri acara Sarasehan Nasional GMPG di Hotel Manhathan, Jakarta, 10 Desember 2017. Sarasehan tersebut mengambi tema

    Menteri Perindustrian yang juga bakal calon Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kiri), Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung (tengah), Inisiator Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia (kedua kanan), Politisi Senior Partai Golkar Abdul Gafur (kanan) dan kader Partai Golkar Yorrys Raweyai (kiri) menghadiri acara Sarasehan Nasional GMPG di Hotel Manhathan, Jakarta, 10 Desember 2017. Sarasehan tersebut mengambi tema "Merumuskan Pembaharuan dan Kebangkitan Partai Golkar." Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Golkar telah memilih Airlangga Hartarto sebagai ketua umum menggantikan Setya Novanto. Namun menurut peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ardian Sopa, kepengurusan baru Partai Golkar menghadapi tiga ancaman.
     
    Ancaman pertama, Golkar bisa terlempar dari posisi  dua besar untuk pertama kalinya pada pemilihan umum legislatif 2019. Sebab, menurut Ardian, berdasarkan survei LSI, elektabilitas Golkar pascapenetapan Setya Novanto sebagai tersangka kasus e-KTP untuk kedua kalinya ada di kisaran angka 11,6 persen. 

    Baca: Terpilih Jadi Ketua Umum Golkar, Airlangga Doakan Setya Novanto

    Survei LSI dilakukan pada 1-14 November 2017 dengan metode multistage random sampling, melibatkan 1.200 responden serta margin error lebih kurang 2,9 persen. 

    Hasil survei itu menunjukkan bahwa posisi Golkar berada di belakang Partai Gerindra (13 persen) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (24,2 persen).

    "Ini ancaman yang harus dihadapi, kalau tidak ada perubahan bahkan bisa terlempar ke posisi empat atau lebih," kata Ardian di Kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta, Kamis, 14 Desember 2017.

    Simak: Muhammad Qodari: Kompromi Antarfaksi Jadi Cara Selamatkan Golkar

    Ancaman kedua, ujar Ardian, Golkar sebagai partai pemilik suara terbanyak kedua pada pemilu legislatif 2014  berpotensi tidak bisa melahirkan tokoh kelas berat yang mampu bersaing di pemilihan presiden 2019. Pasalnya, berdasarkan hasil survei LSI, dari lima calon presiden terkuat, tidak ada satupun yang merupakan kader Golkar.

     
    Capres terkuat versi LSI ialah Presiden Joko Widodo (38,4 persen), Prabowo Subianto (24,6 persen), Jenderal Gatot Nurmantyo (7,5 persen), Anies Baswedan (4,9 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (3,2 persen), lainnya (4,1 persen) dan tidak menjawab (17,3 persen).

    Lihat: Tujuh Rising Star Golkar Versi LSI

    Selain tidak memiliki tokoh kelas berat untuk menjadi calon presiden,  Golkar juga tidak memiliki figur yang kuat sebagai calon wakil presiden. Karena itu Ardian berujar ancaman ketiga Golkar adalah hanya akan menjadi penyanyi latar bagi penyanyi utama dalam pilpres 2019. 

     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.