PKS Anggap AM Fatwa Tokoh Perlawanan Pada Otoritarianisme

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AM Fatwa menjadi ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru. AM Fatwa pernah dipenjara 18 tahun karena kasus Lembaran Putih Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 dan khotbah politiknya yang kritis terhadap Orde Baru. TEMPO/Imam Sukamto

    AM Fatwa menjadi ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru. AM Fatwa pernah dipenjara 18 tahun karena kasus Lembaran Putih Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 dan khotbah politiknya yang kritis terhadap Orde Baru. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal perwakilan DKI Jakarta Andi Mappetahang Fatwa atau AM Fatwa meninggal di Rumah Sakit MMC Jakarta pada usia 78 tahun, Kamis, 14 Desember 2017. Ucapan bela sungkawa pun mengalir dari para koleganya.

    Salah satunya datang dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Dewan Perwakilan Rakyat. Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, mengatakan Fatwa adalah salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Menurut dia, Fatwa memiliki idealisme yang kuat dalam melawan otoritarianisme.

    Baca: Pesan-pesan AM Fatwa Sebelum Meninggal

    "Kami mengucapkan turut berduka atas meninggalnya almarhum bapak AM Fatwa. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, kami semua tahu kiprah dan perjuangan beliau," katanya lewat pesan singkat pada Kamis, 14 Desember 2017.

    Menurut anggota Komisi Pertahanan itu, Fatwa layak dijadikan guru dan teladan dalam keteguhannya memperjuangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan. "Beliau orang yang sangat gigih, teguh pendirian, dan idealis dalam memegang prinsip," ujarnya.

    Baca: Dalam Keadaan Sakit, AM Fatwa Sempat Menulis Otobiografi

    Hal itu, kata Jazuli, terbukti dari pengalaman Fatwa yang pernah dipenjara bertahun-tahun oleh rezim Orde Baru. Namun hal tersebut tidak menggoyahkan perjuangannya. Selain itu, Fatwa dikenal sebagai pembela umat yang kuat.

    Jazuli menuturkan dengan segala kegigihan dan idealisme yang dimiliki Fatwa, maka senator asal DKI Jakarta itu layak disebut sebagai tokoh perlawanan terhadap otoritarianisme. "Semoga kami semua mampu meneladani kiprahnya dan semoga Allah SWT menerima amal dan perjuanganya, amiin," ujarnya.

    Kabar wafatnya Fatwa pertama kali disampaikan oleh anaknya, Dian Islamiyati Fatwa. Rencananya jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, selepas zuhur nanti.

    AM Fatwa dikenal sebagai pengkritik dan ikon perlawanan terhadap rezim Orde Lama dan Orde Baru. Dia tercatat sebagai salah satu penanda tangan Petisi 50. Akibat perjuangannya, dia menghabiskan waktu 12 tahun di penjara atas kasus Lembaran Putih Tanjungpriok yang menuntut dibentuknya komisi pencari fakta korban-korban Peristiwa Tanjungpriok 1984.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.