Nusron Wahid Kembali Suarakan Pelengseran Setya Novanto

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, menghadiri serah terima jabatan di Kantor BNP2TKI, Jakarta, 28 November 2014. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, menghadiri serah terima jabatan di Kantor BNP2TKI, Jakarta, 28 November 2014. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Bidang Pemenangan Pemilu I Partai Golkar Nusron Wahid mengatakan pergantian kepemimpinan partai harus terjadi sekalipun Ketua Umum Setya Novanto memenangkan gugatan praperadilan.

    "Memang kalau dia menang praperadilan kita masih mau dipimpin?" kata Nusron di kantor Center for Strategic and International Studies, Jakarta pada Kamis, 23 November 2017.

    Setya Novanto urung dicopot dari jabatan Ketua Umum Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Hasil rapat pleno Golkar Selasa, 21 November kemarin memutuskan menunda pencopotan Setya sampai putusan praperadilan Setya.

    Baca juga: Demi DPR, NasDem Minta Golkar Ambil Langkah Tepat Soal Setya

    Setya Novanto mengajukan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas penetapannya sebagai tersangka korupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Perkara itu akan mulai disidangkan pada Kamis pekan depan. Nusron mengatakan, ada dua skenario mengganti Setya Novanto.

    "Nunggu dia di praperadilan kalah atau di P21 (dilimpahkan) sebelum praperadilan, begitu dia terdakwa. Cara kedua ya kita galang teman-teman daerah," kata Nusron.

    Nusron mengatakan, pergantian itu diperlukan dalam rangka penyelamatan Partai Golkar. Tokoh Nahdlatul Ulama ini menyampaikan, Golkar harus melakukan perbaikan citra lantaran ketua umumnya terjerat kasus korupsi e-KTP. "Kita harus rebranding. Orangnya harus dibongkar semua," kata Nusron.

    Menurut Nusron, orang yang terpilih menggantikan Setya Novanto nantinya harus dapat memutus mata rantai korupsi yang menyandera partai politik. Selain itu, pemimpin Golkar juga harus dapat melakukan stabilisasi demokrasi dan menjadi pelopor antiradikalisasi.

    "Golkar masih punya value, tapi kalau ditempeli korupsi tidak ada manfaatnya dan justru menjadi beban bagi bangsa Indonesia," ujarnya.

    Baca juga: Akbar Tandjung: Munaslub Jadi Jalan Terbaik Bagi Golkar

    Kendati begitu, Nusron enggan membahas lagi siapa yang berpeluang besar menggantikan Setya, baik sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat."Yang penting turun dulu, ganti dulu," kata Nusron.

    Sebelumnya, Nusron mengatakan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpeluang menjadi ketua umum Golkar yang baru. Nusron menyebut Airlangga sebagai 'orangnya Presiden' dan pilihan yang baik untuk menjadi pemimpin Golkar menggantikan Setya Novanto. Airlangga juga merupakan pesaing Setya Novanto dalam musyawarah nasional Partai Golkar pada 2016.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.