Disebut Bupati Berprestasi, Warga: Kerja Rita Tidak Terlalu Bagus

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari menunggu diperiksa di Gedung KPK, 6 Oktober 2017. Bupati Kutai Kartanegara tersebut dinilai menerima uang sebesar 6 miliar. Tempo/Ilham Fikri

    Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari menunggu diperiksa di Gedung KPK, 6 Oktober 2017. Bupati Kutai Kartanegara tersebut dinilai menerima uang sebesar 6 miliar. Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Di atas kertas, nama Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dikaitkan dengan banyak prestasi. Selain menerima banyak penghargaan dari dalam maupun dari luar negeri, ia juga dinilai sebagai pelopor busana Ulap Doyo khas Kutai itu dengan menciptakan lapangan pekerjaan untuk pengrajin ulap doyo. Ulap doyo disebut-sebut sebagai busana warisan Suku Dayak Benuaq yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad 17.

    Rita juga pencetus program bahasa Inggris untuk penduduk Kukar. Bupati yang dijadikan tersangka oleh KPK karena diduga menerima gratifikasi itu bermimpi menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di Kukar. Untuk mewujudkan mimpi itu, Rita mengirimkan para guru agar belajar bahasa Inggris ke Cambridge University April 2017 dengan mengalokasikan anggaran Rp21 miliar.  "Bila semua sudah berjalan lancar, diharapkan ada kelas-kelas kecil belajar bahasa Inggris di Pulau Komala," kata Rita kepada Tempo, Rabu 1 Februari 2017. Dengan bisa berbahasa Inggris, guru-guru itu diharapkan membantu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan potensi pariwisata.

    Baca:
    Diperiksa KPK, Bupati Kukar Rita: Penjaranya Bagus, Kok
    Bupati Rita Raih Banyak Penghargaan, Begini ...

    Meski meraih banyak penghargaan, namun hasil kerja Rita di Kukar tidak dinilai baik oleh warganya. Nova, penduduk Kecamatan Tenggarong, misalnya. “Kerjanya nggak terlalu bagus juga.” Ibu dua anak yang beranjak remaja itu menyampaikan pesan teks kepada Tempo, Kamis, 5 Oktober 2017.

    Pembangunan di masa Rita dinilai tidak banyak menyentuh rakyat kalangan bawah. “Tidak banyak menyentuh rakyat kecil.” Nova, ibu rumah tangga itu mengkritik Rita. Ia mengeluhkan kotanya yang tak punya layanan transportasi umum. “Semua menggunakan kendaraan pribadi.”

    Nova mengakui listrik jarang padam. Layanan air ledeng relatif lancar, tapi kualitas airnya buruk. Jalanan dan layanan kesehatan di Tenggarong, yang berada di pusat pemerintahan, menurut dia, dalam kondisi baik. Namun kemajuan itu belum banyak dirasakan kecamatan lain. “Semua keadaan di Kecamatan Tenggarong tidak mewakili keadaan Kukar karena banyak wilayah yang terpencil.”

    Baca juga:
    KPK Tahan Bupati Rita Widyasari
    BPK: Tak Ada Lagi Tekanan dari Partai Politik

    Di tingkat internasional, perempuan kelahiran Tenggarong, 7 November 1973 itu menerima penghargaan Global Leadership Award 2016. Penghargaan itu datang dari majalah bisnis The Leader International dan American Leadership Development Association, sebuah penghargaan untuk pemimpin yang memberi teladan dan berhasil membangun perekonomian.

    Nova mempertanyakan penghargaan itu. “Kapan dapatnya?” Ia merasa Rita tidak banyak meningkatkan perekonomian rakyat. Menurut dia, Rita tak pantas mendapatkannya. Rakyat bahkan kesulitan hanya untuk berbelanja sehari-hari ke pasar. Rita memindahkan pasar yang berada di pusat kota ke tempat yang jauh. “Dibangunnya pasar yang besar, (tapi) di pinggiran.”


    SAIFULLAH S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.