Si Mungil Gili Kedis, Pulau Cinta

Selasa, 13 Desember 2016 | 20:18 WIB
Si Mungil Gili Kedis, Pulau Cinta
Gili Kedis dikenal sebagai Pulau Cinta, di Lombok Barat.

INFO NASIONAL - Tak jauh dari Gili Nanggu dan Gili Sudak, Sekotong, Lombok Barat, keajaiban alam membentuk pulau mungil Gili Kedis berbentuk hati. Kemudian, banyak pasangan berdatangan ke tempat ini untuk bertamasya, dan entah bagaimana mulanya, orang-orang pun menamainya dengan Pulau Cinta.



Pulau yang terdapat di pesisir barat daya Pulau Lombok ini sungguh mungil. Sebagian besar terbuka dengan hamparan pasir putih yang sangat halus seolah tepung yang berserakan . Saking kecilnya pulau ini, mengelilinginya pun tak sampai 15 menit.



Banyak pelancong yang berkunjung ke tempat ini, khususnya pasangan muda. Apalagi kalau tidak mengharapkan kenangan bersama kekasih hati di Pulau Cinta yang ternama di Lombok Barat ini. Datang ke tempat ini pun tak sulit. Dari pelabuhan terdekat, seperti Tawun atau Batu Kijuk, Sekotong, dengan menyewa perahu, pelancong bisa segera diantar ke tempat indah ini. Laut bening dan suasana tenang bisa didapat di sini. Tentu tak lengkap jika tak bersama orang tercinta.



Meski tak banyak, beberapa pohon peneduh tumbuh di Gili Kedis yang bisa digunakan sebagai tempat bergantung hammock, tempat Anda bisa berlama-lama menikmati pulau cantik ini. Selain itu terdapat berugak (pendopo) yang bisa menjadi tempat pengunjung berteduh.



Bergeser sedikit dari Gili Kedis, terdapat Gili Tangkong. Pulau yang ditumbuhi pohon lebat dan berbentuk memanjang ini tak berpenghuni. Karang tampak di sisi-sisi pulau. Lautan di sekitar Gili Tangkong ini menjadi tempat favorit para diver atau sekadar snorkeling saat berkunjung ke Sekotong. Bahkan para pemancing amatir dan profesional sering memancing di sekitar pulau ini. Cumi , udang, dan aneka ikan banyak berseliweran di Gili Tangkong ini.



Dengan sekali dayung, keindahan Gili Tangkong dan Gili Kedis bisa dinikmati sekaligus. (*)

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan