Minggu, 18 Februari 2018

Kritisi Survei CSIS, Gerindra Optimistis dengan Elektabilitas Prabowo

Oleh :

Tempo.co

Rabu, 13 September 2017 21:30 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kritisi Survei CSIS, Gerindra Optimistis dengan Elektabilitas Prabowo

    Ketua Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, menitikkan air mata didampingi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan pendiri Partai Amanat Nasional Amien Rais (dua kiri) dalam upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tahun, di Universitas Bung Karno, Jakarta, 17 Agustus 2017. Prabowo Subianto menyampaikan sambutannya dalam upacara ini. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta  – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade masih optimistis mengusung Ketua Umum Prabowo Subianto  untuk menantang Presiden Jokowi di pemilu presiden 2019. Andre Rosiade meyakini elektabilitas kedua calon akan berubah menjelang pemilu. “Kalau bahasa sekarangnya, Belanda masih jauh,” kata Andre saat dihubungi di Jakarta, Rabu 13 September 2017.

    Menurut Andre waktu sekitar dua tahun menjelang pemilu 2019 sangat cukup untuk mengkerek elektabilitas Prabowo Subianto. Sebelumnya Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia baru saja merilis hasil jajak pendapat elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya santer disebut akan kembali bersaing dalam pemilihan presiden 2019.

    Baca: Survey CSIS: Elektabilitas Jokowi Meningkat, Prabowo Stagnan

    Dari hasil survei CSIS didapatkan hasil elektabilitas Jokowi terus meningkat sejak 2015. Pada 2015 tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 36,1 persen, meningkat menjadi 41.9 persen pada 2016, dan 50,9 persen pada tahun 2017.

    Sedangkan elektabilitas Prabowo  cenderung stagnan. Pada 2015, elektabilitas Prabowo mencapai 28 persen. Setahun kemudian menurun menjadi 24,3 persen dan pada 2017 kembali naik menjadi 25 persen.

    Menurut Andre, selisih elektabilitas Prabowo dan Jokowi dalam survei tersebut belumlah terlalu besar. Selisih elektabilitas 25 persen  dianggap masih wajar karena posisi Prabowo sebagai penantang dan Jokowi sebagai presiden. “Pak Prabowo kan juga belum bergerak, belum kampanye,” ujarnya.

    Simak: CSIS: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Jokowi-JK Naik Terus

    Andre mengatakan bahwa saat pemilu presiden 2014, Prabowo hanya memiliki modal elektabilitas 10 persen. Angka tersebut terpaut jauh dari Jokowi sebesar 70 persen. Namun faktanya, kata Andre, Jokowi hanya bisa menang tipis. “Dalam tanda kutip penuh kecurangan,” ujarnya.

    Hal yang sama juga terjadi dalam pemilu gubernur DKI 2017. Menurutnya saat itu modal elektabilitas pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang didukung Gerindra hanya di angka 5 persen. Namun Anies Sandi, ujarnya, bisa mengalahkan pasangan Ahok dan Djarot yang memiliki elektabilitas tinggi mencapai 70 persen. “Politik itu dinamis,” kata Andre.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Diet: Makanan Penurun Berat Badan

    Makanan yang kaya serat, protein dan vitamin cocok bagi orang yang sedang diet.