Jumat, 23 Februari 2018

Cerita Setya Novanto Soal E-KTP ke Tempo: Demi Allah, Demi Tuhan  

Oleh :

Tempo.co

Selasa, 18 Juli 2017 07:07 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cerita Setya Novanto Soal E-KTP ke Tempo: Demi Allah, Demi Tuhan  

    Ketua DPR RI Setya Novanto menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan terkait kasus E-KTP selama tujuh jam oleh penyidik di Gedung KPK, Jakarta, 13 Desember 2016. Kala itu, Ketua Umum Partai Golkar tersebut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Sugiharto. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPR Setya Novanto menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi E-KTP.  Hal itu diumumkan Ketua KPK Agus Rahardjo dalam jumpa pers di Gedung KPK, Senin, 17 Juli 2017.  Ketua Umum Partai Golkar ini sudah menjalani beberapa kali pemeriksaan di KPK.

    Baca: Jadi Tersangka, Ini 5 Peran Setya Novanto dalam Kasus E-KTP

    Pada Rabu 8 Maret 2017 lalu, Setya Novanto pernah berkunjung ke kantor Tempo di Jalan Palmerah, Jakarta. Setya datang untuk mengklarifikasi kehebohan berita  yang menyebutkan dirinya mengatur megakorupsi E-KTP senilai Rp 2,3 triliun. Berdasarkan dakwaan jaksa, Setya menerima Rp 540 miliar.

    "Setelah membaca dakwaan, saya pikir lebih baik ke Tempo saja," ujar Setya Novanto ketika itu. Setya lalu membeberkan kasus dakwaan proyek e-KTP, berikut ini cuplikan penjelasan Setya Novanto.

    Baca juga:

    Kasus E-KTP, Setya Novanto Tersangka Keempat


    Nama Anda disebut dalam dakwaan korupsi proyek E-KTP
    Saya baca di Koran Tempo mengenai siklus pendanaan, saya terima Rp 540 miliar. Kaget saya membacanya. Saya berdoa, saya tidak pernah menerima dana tersebut. Rupanya (informasinya) dari pertemuan antara Andi Narogong (Andi Agustinus), Anas Urbaningrum, Muhammad Nazaruddin, dan saya yang akan membagikan uang sejumlah sekian, sekian. Kapan saya bertemu dengan Anas dan Nazaruddin, apalagi membicarakan e-KTP?

    Apa yang Anda ingat mengenai proyek E-KTP?
    Waktu itu, saya menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar. Saya menyampaikan apa yang saya tahu dan saya dengar. Sebagai ketua fraksi, saya hanya menerima laporan bulanan. Nah, sepanjang untuk kepentingan nasional dan kepentingan masyarakat, apalagi e-KTP bisa berguna untuk paspor dan bisa untuk identitas korban pengeboman, buat saya itu baik.

    Bagaimana dengan anggaran?
    Ada juga pertanyaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi soal anggaran. Selaku ketua fraksi, masalah anggaran diserahkan kepada Komisi II. Di setiap komisi ada anggota Badan Anggaran dan dilaporkan ke sana.

    Jatah Partai Golkar

    Sewaktu proses penganggaran, Anda mendapat laporan dari anggota Fraksi Golkar di Komisi II?
    Saya menjelaskan bahwa dalam proses anggaran saya tidak ikut campur. Kalau rapat, waktunya selalu pendek karena ada sebelas komisi, belum lagi badan-badan.

    Dalam dakwaan disebutkan ada Rp 150 miliar untuk Partai Golkar....
    Tangan dua, nih. Demi Allah, demi Tuhan. Ini bisa difoto, nih. (Setya Novanto mengacungkan telunjuk dan jari tengah membentuk tanda "v".)

    Banyak orang menyebut proyek e-KTP itu proyek Golkar....
    Saya belum pernah mendengar. Sebab, kalau ada usul proyek dari pemerintah, tidak bisa hanya satu fraksi.

    Menurut KPK, proyek e-KTP senilai Rp 5,9 triliun dikorupsi Rp 2,3 triliun....
    Waduh, enggak tahu. Duitnya mau ditaruh di mana? Kalau dikumpulin, bisa segedung ini. Saya enggak mengerti, itu urusan penyidik.

    Beberapa anggota DPR mengembalikan uang suap yang mereka terima ke KPK....
    Kalau boleh tahu, siapa yang mengembalikan uang? Itu mengembalikan dari mana?

    Menurut Anda, anggota fraksi lain menerima suap proyek itu?
    Lihat saja di persidangan. Saya juga sempat bertanya (kepada teman-teman), "Ada enggak lu terima? 'Enggak ada, Beh'."

    Anda sudah melihat berita acara pemeriksaan para saksi dan tersangka, ya?
    He-he-he..., kita saling rahasia.

    Kalau melihat dakwaan, Anda menjadi calon tersangka begitu dekat....
    Wah, ini sudah mau menjadi hakim.

    Dakwaan Korupsi E-KTP

    Soalnya, di awal proyek pada 2010, Anda disebut bertemu dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni untuk membahasnya....
    Enggak, enggak pernah. Penyidik juga bertanya, tapi saya sudah mengklarifikasi. Nanti bisa lihat pengakuan mereka. Saya berusaha menghindari pertemuan-pertemuan itu. Dulu juga diisukan bertemu ini, bertemu itu, enggak ada semua. Jadi ini ocehan Nazaruddin saja. Kebenarannya akan terlihat, apakah pertemuan itu ada.

    Anda juga disebut bertemu dengan Irman dan Sugiharto, dua pejabat Kementerian Dalam Negeri, yang menjadi terdakwa korupsi ini...
    Ya, saya juga baca. Silakan ditanya kepada yang bersangkutan. Yang jelas, saya sudah mengklarifikasi.

    Kabarnya, di ruang penyidikan KPK, Anda dan mereka sempat dikonfrontasi?
    Sempat dipertemukan juga. Saya enggak kenal dengan mereka.

    Oke, jadi menurut Anda, semua isi dakwaan korupsi E-KTP ini tidak benar?
    Ada yang saya enggak mengerti. Apa pun yang ada dalam dakwaan kita lihat perkembangannya di sidang karena di sana akan ketahuan persisnya bagaimana.

    Bagaimana mungkin keterangan dari orang berbeda-beda bisa klop?
    Nanti lihat di persidangan. Kalau itu, susah saya jawab.

    TEMPO | PDAT | ALI HIDAYAT

    Video Terkait:
    KPK Tetapkan Setya Novanto sebagai Tersangka Korupsi E-KTP




     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Pentingnya Memilah Sampah Sesuai Jenisnya

    Pilahlah sampah sesuai jenisnya, sampah organik, anorganik, dan sampah lainnya.