Cegah Penyebaran Paham Radikal, Polisi Perketat Patroli Internet

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, seusai rapat koordinasi kesiapan akhir tingkat pusat Operasi Ramadaniya 2017 di Mabes Polri, Jakarta, 12 Juni 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, seusai rapat koordinasi kesiapan akhir tingkat pusat Operasi Ramadaniya 2017 di Mabes Polri, Jakarta, 12 Juni 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian akan memperketat patroli Internet atau cyber patrol untuk mencegah penyebaran paham radikal melalui dunia maya. Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan radikalisasi melalui dunia maya berpotensi membuat orang menjadi radikal. "Kekuatan siber kita harus kuat," kata Tito seusai upacara peringatan ulang tahun ke-71 Bhayangkara di Monas, Jakarta, Senin, 10 Juli 2017.

    Menurut Tito, jika ketahanan siber Indonesia kuat, situs-situs radikal yang banyak beredar di Internet tidak akan mudah diakses. Tito mengatakan penguatan siber ini diperlukan, terutama untuk menangkal penyebaran radikalisme terhadap pelaku lone wolf (bergerak sendiri).

    Baca: Muhammadiyah: Literasi Jadi Benteng dari Serangan Radikalisme  

    Berbeda dengan pelaku yang terhubung dengan jaringan terstruktur, kata Tito, pelaku lone wolf bergerak dengan caranya sendiri lewat panduan Internet. "Untuk menangani yang seperti ini, patroli deteksi Internet harus kuat," ujarnya.

    Tito mengatakan dua kejadian terorisme yang terjadi pekan lalu dilakukan oleh pelaku lone wolf. Agus Wiguna, 22 tahun, perakit bom panci yang meledak di Buah Batu, Bandung, dan Ghilman Omar Harridhi, 20 tahun, pemasang bendera ISIS di depan Kepolisian Sektor Kebayoran Lama, sama-sama mengalami proses radikalisasi lewat Internet.

    "Pelaku menjadi radikal melalui bacaan-bacaan di Internet dan beraksi seorang diri tanpa jaringan teroris," ujarnya.

    Para pelaku teror lone wolf ini, kata Tito, bisa juga disebut sebagai leaderless jihad. "Mereka berjihad tanpa penuntun. Mereka berjihad menurut versi sendiri," ujarnya.

    Baca juga: Sultan HB X: Yogyakarta Harus Cegah Bibit Radikalisme di Kampus

    Mereka, kata Tito, mendapat pengetahuan soal paham radikal dan jihad lewat situs-situs radikal di Internet dan sampai akhirnya terinspirasi. Biasanya mereka sudah memiliki bibit untuk menjadi radikal. Contohnya memiliki masa lalu yang kelam.

    Tito mencontohkan pelaku teror di Polsek Nagrek yang sebelumnya adalah preman dan sering minum-minuman keras. Dia merasa bersalah dan ingin menebus dosa, tapi dari situ dia mengenal paham radikal.

    Pengamat terorisme Al Chaidar menilai radikalisasi lewat Internet bisa terjadi lebih cepat bagi orang yang telah memiliki bibit fundamentalisme seperti yang dicontohkan Tito. "Misalnya cenderung berpikir singkat, tekstual, suka kekerasan, dan mudah tersulut emosi," kata dia.

    Bibit tersebut kemudian akan berkontemplasi dengan paham radikal yang diperolehnya dari lingkungan. "Perlu bibit dulu untuk disemai di tanah yang radikal," kata Chaidar.

    Direktur Perlindungan Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigadir Jenderal Herwan Chaidir, mengatakan perlu peran dari keluarga dan lingkungan untuk mencegah bibit tersebut tumbuh. Kelompok atau jaringan teroris bisa memanfaatkan persoalan keluarga dan kesejahteraan orang untuk dipengaruhi paham radikal.

    Herwan mengatakan modus yang digunakan kelompok tersebut misalnya dengan menjanjikan kesejahteraan bagi mereka yang mau berjihad. "Kalau mudah terpengaruh hal seperti itu, dia bisa terjerumus," kata dia.

    AMIRULLAH SUHADA | ISA ANSHAR | NINIS C.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.