Sebanyak 999 Beduk Ramaikan Festival Dulag Kota Purwakarta 2017

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain bedug yang dijual untuk malam takbiran di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta, 4 Juli 2016. Bedug yang terbuat dari tong besi atau drum dan kulit kambing atau sapi tersebut dijual dari kisaran Rp150 ribu-Rp750 ribu. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Anak-anak bermain bedug yang dijual untuk malam takbiran di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta, 4 Juli 2016. Bedug yang terbuat dari tong besi atau drum dan kulit kambing atau sapi tersebut dijual dari kisaran Rp150 ribu-Rp750 ribu. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Purwakarta - Sebanyak 999 dulag atau beduk dipastikan akan meramaikan Festival Dulag Lebaran 2017 yang akan digelar pada malam takbiran di Kota Purwakarta, Jawa Barat.

    "Pesertanya berasal dari dinas/instansi pemerintahan, BUMN dan BUMD, kecamatan, desa dan kelurahan, serta masyarakat umum," kata ketua panitia Festival Dulag Lebaran 2017, Hery Anwar, kepada Tempo, Sabtu, 24 Juni 2017.

    Baca: Mudik ke Solo, Gunakan Aplikasi Solo Destination

    Lokasi festival dipusatkan di sepanjang ruas jalan Kolonel Kornel Singawinata, yang merupakan teras destinasi wisata Kota Purwakarta. Selain meramaikan malam takbiran, ia optimistis Festival Dulag akan menyedot banyak pelancong lokal dan regional, bahkan mungkin pelancong asing.

    "Sebab, Festival Dulag sudah menjadi agenda tahunan yang dihelat setiap malam takbiran dan selalu dipenuhi pengunjung," ujarnya.

    Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan dulag merupakan legenda dalam tradisi dan kebudayaan Sunda. "Selain dijadikan sebagai penanda datangnya setiap waktu salat selama Ramadan dan datangnya malam takbiran, dulag juga ditabuh dengan diarak keliling kampung," ucapnya.

    Baca: Komisi Fatwa MUI: Takbiran Idul Fitri Tidak Boleh Dihalangi

    Karena itu, Dedi memberikan ruang dan kreasi untuk tradisi ngadulag atau seni menabuh bedug dengan menggelar festival sejak dia menjabat Bupati Purwakarta. "Festival Dulag Purwakarta 2017 merupakan kedelapan kalinya," tuturnya.

    Sejauh ini, kata Dedi, takbir keliling saat festival tak pernah mendatangkan masalah sosial. "Selalu aman," katanya.

    Hal lain yang menarik adalah pemimpin agama Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu selalu mengambil peran dalam festival tersebut. "Kami selalu memupuk rasa persaudaraan dan keberagaman dalam setiap event keagamaan, termasuk di Festival Dulag," ujarnya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.