Cerita Pondok Pesantren Al Jauhar Jember Gembleng Mahasiswa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Cheryl Ravelo

    REUTERS/Cheryl Ravelo

    TEMPO.CO, Jember -  Penganut agama Islam atau muslim harus sukses di dunia dan akhirat sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW dengan pegangan wahyu Alloh dalam Al Qur’an dan hadits nabi. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terdapat sebuah pondok pesantren yang jadi  tempat penggemblengan mahasiswa agar sukses beribadah dan menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi.

    Pondok Pesantren Al Jauhar dirintis sejak tahun 1989 dan berdiri pada tahun 1991 oleh ulama sekaligus akademisi Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej) KH Shodiq Mahmud. Shodiq merupakan salah satu cucu ulama besar yang ikut menyebarkan dakwah Islam di Jember, KH Muhammad Shiddiq.

    Baca: Gus Zuhri: Kalau Negara Ini Ambruk, yang Bersalah Kiai dan TNI  

    KH Muhammad Shiddiq melahirkan anak atau keturunan ulama terkemuka di kalangan Nahdiliyin, termasuk KH Achmad Shiddiq. Jadi, KH Shodiq masih keponakan KH Achmad Shiddiq, bekas Rais Aam PBNU tahun 1984-1991 dan tokoh yang mencetuskan pemikiran hubungan antara Islam dan Pancasila.

    “Abah Shodiq mendirikan pesantren Al Jauhar khusus bagi mahasiswa yang kuliah di Jember agar mahasiswa memiliki pendididikan agama dan berakhlakul karimah atau memiliki moral yang baik,” kata pengasuh Al Jauhar saat ini yang juga anak sulung KH Shodiq, Liliek Istiqomah, Senin, 1 Mei 2017.

    Shodiq yang bergelar profesor dan doktor bidang hukum merupakan pendiri dan pengasuh pertama pondok pesantren Al Jauhar yang berada di Jalan Nias III Nomor 5 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember. Shodiq wafat pada 4 April 1998. Kursi pengasuh kemudian dipegang menantunya, KH Sahilun A. Nasir, hingga Sahilun wafat pada 19 Januari 2011.

    Baca: Kongres Ulama Perempuan Bahas Studi Islam yang Adil bagi Wanita

    Sahilun lama mengabdi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember hingga bergelar profesor dan doktor. Kini, tampuk pengasuh dipegang isteri KH Sahilun yang juga putri sulung KH Shodiq, Liliek Istiqomah. Sama dengan ayahnya, Liliek juga lama mengabdi menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Jember.

    Pada Minggu, 30 April 2017, pondok pesantren Al Jauhar menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-26 dan Temu Alumni. Dalam temu alumni tersebut dibentuk Forum Alumni Pondok Pesantren Al Jauhar, Jember. Forum ini membentuk pengurus pusat dengan ketua Abdul Khalik Marzuki dan wakil ketua Nurul Ghufron yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember.

    Khalik termasuk salah satu dari lima santri pertama dari Shodiq yang tengah merintis pondok pesantren Al Jauhar pada akhir tahun 1989. “Dulu hanya ada lima santri dan di sini masih sangat sepi dan banyak sawahnya,” kata Khalik mengenang masa lalunya di Al Jauhar.

    Baca: MUI Palu: Umat Jangan Belajar Islam dari Media Sosial

    Khalik mengingatkan beberapa pesan dari Shodiq. “Beliau berpesan bahwa siapa saja yang ada di lingkungan pondok Al Jauhar ini harus ngaji (belajar ilmu agama Islam) atau ngajar ngaji (mengajarkan ilmu agama Islam),” kata alumnus mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember ini.

    Menurut Khalik, Shodiq juga berpesan usahakan dalam keadaan suci dengan cara membasuh anggota tubuh sesuai tata cara berwudlu. “Beliau juga berpesan usahakan dalam sehari kita membaca Al Qur’an walaupun satu lembar kitab Al Qur’an,” kata alumni Al jauhar yang kini sukses menjadi pengusaha toko bangunan dan penyedia jasa travel umroh dan haji ini.

    Ia juga mengenang amalan-amalan baik di pondok pesantren Al Jauhar. “Setiap ada santri yang akan ujian skripsi atau punya masalah apa saja, kami bersama-sama membaca surat Yasin dan Insya Alloh hajat terkabul dan setiap masalah akan mendapat solusi,” katanya.

    Baca: Zikir dan Doa Bersama di Surabaya, NU Ajak Jaga Islam Moderat

    Jumlah alumni santri pondok pesantren Al Jauhar mencapai ribuan sejak pondok dirintis tahun 1989 hingga tetap eksis sampai sekarang. Mereka tersebar di seluruh daerah di Indonesia dengan beragam profesi atau status sosial seperti kiai atau pendidik, pejabat dan pegawai pemerintahan, pengusaha, guru, dosen, wiraswasta, wartawan, aktivis organisasi non politik, politisi, seniman, budayawan, dan sebagainya. Bahkan ada yang menjadi pegawai di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.