Seleksi Hakim MK Pangganti Patrialis Akbar Masuk Tahap Wawancara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Majelis Kehormatan MK (MKMK) Sukma Violetta bersama anggota (dari kiri) Achmad Sodiki, Anwar Usman dan As'ad Said Ali, dalam sidang pembacaan putusan hasil penelusuran dugaan pelanggaran etik berat yang dilakukan hakim MK Patrialis Akbar, di Mahkamah Konstitusi, 6 Februari 2017. MKMK memutuskan memberhentikan sementara Patrialis Akbar sebagai hakim konstitusi yang terjaring OTT KPK terkait dugaan menerima suap uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Majelis Kehormatan MK (MKMK) Sukma Violetta bersama anggota (dari kiri) Achmad Sodiki, Anwar Usman dan As'ad Said Ali, dalam sidang pembacaan putusan hasil penelusuran dugaan pelanggaran etik berat yang dilakukan hakim MK Patrialis Akbar, di Mahkamah Konstitusi, 6 Februari 2017. MKMK memutuskan memberhentikan sementara Patrialis Akbar sebagai hakim konstitusi yang terjaring OTT KPK terkait dugaan menerima suap uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Proses seleksi hakim Mahkamah Konstitusi pengganti Patrialis Akbar kini sudah memasuki tahap tes wawancara. Hari ini, Rabu, 29 Maret 2017, tes wawancara gelombang kedua akan diikuti enam calon hakim konstitusi. Lima calon lain sudah menjalani tes wawancara pada Senin, 27 Maret 2017.

    Pada tahap wawancara, tujuh panelis panitia seleksi memiliki waktu satu jam untuk menanyai para calon. Panelis itu terdiri atas hakim, praktisi hukum, dan akademikus, yaitu Harjono, Sukma Violetta, Todung Mulya Lubis, Maruarar Siahaan, Komaruddin Hidayat, Ningrum Natasya Sirait, dan Daniel Dhakidae. Mereka menanyakan beragam isu, seperti hukum, integritas, etika, agama, hak asasi manusia, juga persoalan yang tengah menjadi perbincangan masyarakat. 

    Baca: Alasan Saldi Isra Ikut Seleksi Hakim Mahkamah Konstitusi Gantikan Patrialis

    Salah satu kandidat hakim MK, Saldi Isra, berharap para anggota panitia seleksi bisa memilih hakim yang benar-benar berkualitas untuk memperbaiki kinerja lembaga tersebut. “Siapa pun orang yang terpilih, tentu mau bersama hakim lain bekerja sama memperbaiki MK,” ujarnya, Senin.

    Peneliti dari Indonesian Legal Round Table, Erwin Natosmal, menilai, selama proses seleksi berlangsung, belum terlihat hakim yang menguasai persoalan di MK. Penguasaan itu dianggap penting agar calon hakim tidak kaget ketika masuk ke sistem MK. "Kalau tidak paham, akan hanyut dalam persoalan," ucapnya, Selasa, 28 Maret 2017. 

    Erwin juga mengkritik waktu tes wawancara yang amat singkat. Menurut dia, jika satu jam dibagi untuk tujuh panelis, waktu tiap penguji adalah 8,5 menit untuk menggali sosok calon hakim konstitusi.

    Baca: Begini Alasan MK Percepat Seleksi Hakim Pengganti Patrialis Akbar

    Ketua panitia seleksi hakim MK, Harjono, menyadari pihaknya tidak mempunyai banyak waktu lantaran pemilihan digelar mendadak. "Begitu mendadak diberi waktu," ujarnya, Selasa. Meski begitu, dia yakin tim penguji hakim bisa segera menyelesaikan tugas memilih satu orang hakim konstitusi untuk menggantikan Patrialis. 

    Menurut Harjono, setiap penguji sudah memiliki kunci untuk menilai calon hakim. Apalagi, kata dia, panitia seleksi tidak hanya berbekal hasil tes wawancara. Sebelum mengikuti tes wawancara, para calon disaring berdasarkan latar belakang, gaya hidup, dan perbandingan pendapatan.

    ADITYA BUDIMAN | HUSSEIN ABRI DONGORAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.