Disebut Terima Duit E-KTP, Menteri Yasonna: Saya Kaget  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly kaget namanya tercantum dalam surat dakwaan dua terdakwa kasus korupsi pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Pada surat dakwaan itu, mantan anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat itu disebut ikut menerima duit sebesar US$ 84 ribu.

    "Saya kaget mendengar nama saya dicatut dan dituduh menerima dana bancakan e-KTP," kata Yasonna saat dihubungi, Jumat, 10 Maret 2017.

    Baca juga: 9 Politikus Ini Kompak Menyangkal Terima Duit E-KTP

    Yasonna berujar, ketika proyek e-KTP dibahas pada 2011, ia adalah salah satu yang mengkritik kebijakan proyek senilai Rp 5,9 triliun itu. Dia menegaskan tak pernah berhubungan dengan para terdakwa, yakni mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Irman dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Sugiharto. "Kecuali dalam rapat-rapat DPR," ucapnya.

    Selain itu, Yasonna mengaku tak mengenal Andi Agustinus alias Andi Narogong, yang disebut-sebut sebagai penebar fulus untuk memuluskan proyek e-KTP. "Tidak pernah ketemu di mana pun. Jadi kaget betul disebut-sebut," ujarnya.

    Simak: Kasus E-KTP Bikin Resah Golkar, Muncul Desakan Munaslub

    Sebelum namanya muncul dalam sidang, Komisi Pemberantasan Korupsi sempat meminta keterangan Yasonna sebagai saksi sebanyak dua kali. Namun ia tak hadir lantaran pergi ke Hong Kong untuk menyelesaikan masalah pengembalian aset Bank Century. (Baca: Tak Hadiri Panggilan KPK, Yasonna: Saya Bertolak ke Hong Kong)

    MAYA AYU PUSPITASARI



     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.