Imlek, Imam Masjid Agung Purwakarta Bercerita soal Toleransi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pemain barongsai beratraksi di Klenteng An Tjeng Bio, Indramayu, Jawa Barat, 27 Januari 2017, malam. Pertunjukan barongsai tersebut digelar dalam rangka menyambut malam tahun baru Imlek 2568. ANTARA FOTO

    Sejumlah pemain barongsai beratraksi di Klenteng An Tjeng Bio, Indramayu, Jawa Barat, 27 Januari 2017, malam. Pertunjukan barongsai tersebut digelar dalam rangka menyambut malam tahun baru Imlek 2568. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Purwakarta -  KH Hasan Syuaib, seorang imam besar masjid agung Baing Yusuf Purwakarta, Jawa Barat, berkisah soal toleransi antaretnis dan antarumat beragama yang dilakukannya pada setiap perayaan Tahun Baru Imlek.

    Kyai berusia 80 tahun itu, menuturkan, tradisi saling menghormati perayaan tradisi dan perayaan momentum keagamaan di Purwakarta sudah tercipta sejak dia kanak-kanak.  "Kami saling berkunjung saat perayaan tradisi dan hari keagamaan berlangsung," ujar Habib Hasan, di hadapan 500-an siswa lintas etnis dan agama yang mengadakan acara botram atau makan bersama menjelang perayaan Imlek yang jatuh pada Sabtu, 28 Januari 2017 di Bale Paseban komplek kantor Bupati Purwakarta, Jumat, 27 Januari 2017.

    Kyai yang akrab disapa Habib itu, mengungkapkan bahwa tidak ada salahnya mengucapkan selamat atas perayaan tradisi ataupun perayaan keagamaan agama lain yang tidak dianut oleh pengucapnya. Tak cuma itu, dia mengaku sangat mengenal salah seorang sosok keturunan Tionghoa yang menjadi kawan akrab ayahnya. "Namanya Nanah Tong Cheh. Dia selalu memberikan hadiah dodol Implek saat keluarga kami berkunjung mengucapkan selamat Hari Raya Imlek ke rumahnya," ujar Habib yang keturunan Arab itu.

    Baca juga:
    Politik Indonesia di Tahun Ayam,Membangun atau Menghancurkan
    Hadir dalam Debat Pilkadi DKI, Antasari Azhar Merapat ke PDIP?

    Habib mengaku senang menceritakan kisah manisnya jalinan toleransi antarumat beragama yang terjadi di Purwakarta kepada generasi muda agar mereka juga bisa bersikap sama. "Sehingga mereka terhindar dari sikap intoleransi yang saat ini mulai mencemaskan keutuhan NKRI," ucap dia.

    Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang hadir dan botram dengan menu khas Purwakarta, sate maranggi bersama pelajar itu, mengaku senang karena soal toleransi di daerahnya sudah menjadi keniscayaan baik antarumat beragama, mau pun antarsuku, rasa dan antargolongan. "Termasuk di kalangan pelajar dan elemen generasi muda lainnya," ujar Dedi. Dia meminta para pelajar untuk terus saling memupuk solidaritas dan toleransi.

    David, siswa kelas 11 SMA PGRI Purwakarta yang didaulat menyampaikan kesan dan pesannya soal toleransi dan perayaan Imlek, mengatakan, di keluarga kami selalu terkesan dengan kehadiran kue keranjang dan pembagian angpao.

    "Keluarga kami juga selalu mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam tata-cara peribadatan agama yang kami anut," ujar David. Kecuali itu, ia dan keluarganya juga selalu mendapatkan ucapan selamat dari para tetangga di lingkungan rumahnya. "Pokoknya menyenangkan sekali."

    NANANG SUTISNA

    Simak juga:
    Isu Penolakan Rizieq, Bachtiar Nasir: Jangan Terprovokasi
    Menlu Imbau WNI Tenang Hadapi Kebijakan Imigrasi Trump


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.