Desa Unggulan 2016, Gemaharjo Berkembang Berkat Sapi Perah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga sedang melintas di depan Kantor Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, Jawa Timur, 1 November 2016. Di Desa itu menghasilkan susu segar yang mensuplai Nestle. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Seorang warga sedang melintas di depan Kantor Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, Jawa Timur, 1 November 2016. Di Desa itu menghasilkan susu segar yang mensuplai Nestle. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Pacitan - Gemaharjo, desa yang berada di Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur, memiliki produk unggulan sapi perah. Populasi sapi di desa itu181 ekor dan mampu menghasilkan 18 ribu liter susu per bulan. Pemasukan yang diperoleh dari penjualan susu mencapai Rp 86 juta per bulan.

    Kepala Desa Gemaharjo Wahyu Pujiono mengatakan semua susu dari desanya sudah ada yang menampung. "Distributornya dari Ponorogo dan sudah ada perjanjian kerja sama," ujar Wahyu. Karena itu, peternak bisa mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan dari hasil penjualan susu tersebut.

    Menurut Wahyu, sebelum mengenal budi daya sapi perah, mayoritas warga Desa Gemaharjo hanya mengandalkan penghasilan dari pertanian. Tidak ada nilai tambah lain. "Baru pada 2014, ada tawaran dari Dinas Peternakan untuk mengembangbiakkan sapi perah," kata Wahyu.

    Baca: Desa Unggulan 2016, Mengwi Kuat Memegang Adat

    Kemudian, Wahyu menyosialisasikan tawaran itu kepada sejumlah kelompok tani di desanya. Ternyata tawaran itu mendapat sambutan positif. Anggota kelompok tani tidak ragu mengembangbiakkan sapi perah. "Lalu, perwakilan kelompok tani kami ajak studi banding ke Ponorogo," ujar Wahyu. Di Ponorogo, kata Wahyu, banyak peternak yang sudah sukses mengembangbiakkan sapi perah.

    Setelah sapi bantuan dari Dinas Peternakan diterima kelompok tani, pemerintah Desa Gemaharjo langsung bergerak membangun ruang pendingin guna menyimpan susu segar agar bertahan lama. "Kami juga mendorong warga memanfaatkan lahan kosong untuk mendukung peternakan," ucap Wahyu.

    Baca: Desa Unggulan 2016, Jabiren Si Penjaga Gambut

    Pemerintah desa, kata Wahyu, juga berupaya mencari distributor untuk memasarkan produk susu Gemaharjo. Pekerjaan ini tidak terlalu sulit. Sebab, posisi Gemaharjo yang berada di perbatasan Kabupaten Pacitan dan Ponorogo sangat mendukung pemasaran. Apalagi, di desa dengan luas 1.448 hektare itu, terdapat subterminal bus berfasilitas kios dan warung. "Warungnya buka 24 jam dan ini memudahkan pemasaran," tuturnya.

    Dampak positif dari pengembangbiakan sapi perah ini cepat terlihat. Jumlah penduduk miskin yang berjumlah 480 keluarga pada 2014, setahun kemudian berkurang menjadi 430 keluarga.

    Tumadi, Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah 4 Desa Gemaharjo, mengatakan, dengan mengikuti budi daya sapi perah, pendapatannya meningkat. Sekarang, dia memiliki omzet Rp 7 juta per bulan. Padahal sebelumnya dia harus menunggu mendapat penghasilan empat bulan sekali dari hasil panen.

    Desa Gemaharjo masuk menjadi nominasi desa unggulan pilihan Tempo. Namun, pada Edisi Khusus Desa Unggulan ini, Gemaharjo tidak terpiliih. Tempo memilih tujuh desa dari tujuh provinsi yang dinilai telah melakukan banyak terobosan di berbagai bidang. Penyerahan penghargaan digelar pekan lalu dalam acara yang bertajuk "Membangun Desa untuk Masa Depan Indonesia" di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

    Tujuh desa yang terpilih itu adalah Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang terpilih sebagai desa unggulan kategori penjaga lingkungan dan Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, sebagai desa unggulan untuk kategori sadar pendidikan. Kemudian Desa Mengwi di Badung, Bali, sebagai desa unggul dalam pemberdayaan ekonomi.

    Baca: Inilah Tujuh Desa Terbaik di Indonesia

    Pada kategori sadar kesehatan, Tempo memilih Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Desa Kanonang Dua, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terpilih sebagai desa unggulan hasil pemekaran yang inovatif. Adapun Desa Dermaji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kategori melek teknologi.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.