Desa Unggulan 2016, Jabiren Si Penjaga Gambut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok tani Panenga Desa Jabiren, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah menunjukkan sumur bor buatan untuk melindungi dari kebakaran hutan.  TEMPO/Nurdiansah

    Kelompok tani Panenga Desa Jabiren, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah menunjukkan sumur bor buatan untuk melindungi dari kebakaran hutan. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan setahun lalu disebut-sebut sebagai bencana api dan asap terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup mencatat 261 ribu hektare hutan dan lahan gambut dilalap api.

    Sekitar 122 ribu hektare di antara lahan yang terbakar tahun lalu berada di Kalimantan Tengah. Namun api tak mampir di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. “Semua berkat pembuatan parit dan sumur bor,” kata Ketua Kelompok Tani Panenga Desa Jabiren, Berson, Oktober lalu.

    Baca Tujuh Kampung Terpilih sebagai Desa Unggulan 2016

    Desa Jabiren merupakan desa unggulan pilihan Tempo pada kategori penjaga lingkungan. Pada Edisi Khusus Desa Unggulan ini Tempo memilih tujuh desa dari tujuh provinsi yang dinilai telah melakukan banyak terobosan di berbagai bidang. Penyerahan penghargaan akan digelar malam ini dalam acara bertajuk Membangun Desa untuk Masa Depan Indonesia di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

    Menurut Berson, pembuatan parit adalah inisiatif warga Jabiren untuk mencegah api sekaligus membasahi kembali hamparan gambut yang mengering. Model ini belakangan ditiru Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

    Warga Jabiren bahu-membahu menggali selokan sedalam satu setengah meter dengan lebar dua meter dengan modal dan peralatan terbatas guna mengalirkan air dari bengawan yang melintasi desa tersebut: Sungai Kahayan. “Kami mencangkul sendiri sepanjang dua kilometer, lalu pemerintah menyambung dengan alat berat sejauh lima kilometer,” ujar Pawadi, anggota Kelompok Tani Panenga, menambahkan.

    Parit saja ternyata tak cukup menjadi sekat bakar. Air yang dipompa dari selokan ini cuma bisa menyembur sejauh seratus meter dari bibir selokan selama tiga jam. Sedangkan api bisa terus berkobar selama berhari-hari. “Tercetuslah ide membuat sumur bor,” kata Berson menjelaskan.

    Lagi-lagi dengan sistem swadaya, warga Jabiren berhasil membuat 25 titik sumur bor—dengan biaya per titiknya sekitar Rp 2,5 juta—di sekitar ladang mereka. Satu titik sumur bor bisa menjangkau api dalam radius 25 hektare. Berkat usaha itu, hutan dan lahan gambut Desa Jabiren tak hanya selamat dari kobaran api. Namun, menurut Berson, “Kami pun turun tangan membantu desa tetangga yang masih dilalap api tahun lalu.”

    Selain Desa Jabiren, enam desa unggulan lainnya adalah Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, yang terpilih sebagai unggulan sadar pendidikan. Desa Dermaji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi desa unggulan melek teknologi. Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, dinilai unggul dalam pemberdayaan ekonomi.

    Pada kategori peduli kesehatan, Tempo memilih Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Desa Kanonang Dua, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terpilih sebagai unggulan desa hasil pemekaran yang inovatif. Adapun Desa Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi desa unggulan kategori transparansi anggaran. 

    RAYMUNDUS RIKANG


    Video Desa Unggulan yang Lain:

    Membangun Desa dengan Website dan E-commerce

    Nilai Toleransi dari Bukit Kasih


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.