KLHK Temukan Jejak Pembalakan Liar Baru di Bengkalis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pondok dan kayu olahan para pelaku illegal logging yang telah dihancurkan oleh petugas tim operasi gabungan pemulihan keamanan cagar biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu, Propinsi Riau, 25 Oktober 2016. Sebanyak 13 pondok pembalakan liar (illeggal Logging) berhasil dihancurkan. TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah pondok dan kayu olahan para pelaku illegal logging yang telah dihancurkan oleh petugas tim operasi gabungan pemulihan keamanan cagar biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu, Propinsi Riau, 25 Oktober 2016. Sebanyak 13 pondok pembalakan liar (illeggal Logging) berhasil dihancurkan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan jejak perambah dan pembalakan liar di kawasan hutan Cagar Biosfir Giam Siak Kecil (GSK), Bengkalis, Riau lewat pantauan udara hari Selasa, 25 Oktober 2016. Dari gambar yang diambil, tampak tenda milik pelaku dan kanal-kanal jalur kayu ilegal yang sudah ditutup dalam operasi gabungan.

    Selain itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, di kanan-kiri kanal, masih ada sisa-sisa log kayu yang belum terangkut. “Tim gabungan yang terdiri atas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Balai Penegakan Hukum Sumatera, Kepolisian Resor Bengkalis, dan Komando Distrik Militer Bengkalis telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi pembalakan liar,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 25 Oktober 2016.

    Tim telah menutup kanal sepanjang 1.000 meter serta memusnahkan pondok-pondok ilegal dan 230 meter kubik kayu olahan hasil illegal logging selama Oktober 2016. "Operasi yang dilakukan sejak 2014 telah menutup 21 jalur kayu ilegal dan memusnahkan 1.500 hektare kebun sawit di kawasan hutan," ujarnya.
     
    Rasio menuturkan masih terdapat 205 kepala keluarga yang merambah 867 hektare di dalam kawasan GSK. Pemerintah telah melakukan upaya hukum terhadap para pelaku. Sebanyak tiga kasus hasil penyidikannya sudah lengkap (P-21) pada 2015.

    Selain itu, kata Rasio, pemerintah telah mengirim surat peringatan, melakukan sosialisasi, serta mencari dukungan tertulis dari lembaga adat melayu, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi pemuda dan keagamaan agar para perambah meninggalkan kawasan hutan.

    Menurut Rasio, penegakan hukum di kawasan hutan GSK menjadi prioritas. Alasannya, lahan seluas 705.271 hektare ini sebagian besar rawa gambut yang mudah terbakar. "Bila ada aktivitas ilegal, itu akan menjadi faktor paling mudah yang menyebabkan kebakaran hutan.”

    Di samping itu, cagar biosfir ini merupakan habitat satwa liar, di antaranya gajah, beruang madu, harimau sumatera, dan rusa. Selain itu, di sana tumbuh beberapa jenis flora, seperti giam serta 195 jenis tumbuhan, pohon, semak, dan epifit.

    AHMAD FAIZ



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.