Menteri Anies: Karena Takut Teroris, Guru di Poso Tak Mengajar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menghadiri perayaan Hari Pendidikan Nasional di Kemendikbud, Jakarta, 2 Mei 2016. TEMPO/Danang Firmanto

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menghadiri perayaan Hari Pendidikan Nasional di Kemendikbud, Jakarta, 2 Mei 2016. TEMPO/Danang Firmanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan ancaman teroris kelompok Santoso atau Abu Wardah mempengaruhi kualitas pendidikan di Poso, Sulawesi Tengah.

    "Banyak guru meninggalkan sekolah (di Poso) karena tegang dan khawatir (terhadap teroris)," kata Anies di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Jumat, 3 Juni 2016.

    Anies mengatakan hal tersebut seusai menghadiri rapat koordinasi terkait dengan isu Poso di Kemenkopolhukam. Anies mengaku belum mendapat laporan lengkap mengenai banyaknya guru yang meninggalkan sekolah.

    Ia mengaku baru pertama kali diundang rapat yang membahas perihal ini oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan. "Data belum ada, tapi ada indikasinya. Saya akan cek ke lapangan dan verifikasi apakah benar guru meninggalkan sekolah," tutur Anies.

    Anies membantah kejadian tersebut terjadi karena keluputannya sebagai Mendikbud. "Ingat, guru bukan pegawai Kemendikbud, tapi pemerintah daerah. Atasannya dinas pendidikan daerah," tuturnya. Anies berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut "Kami akan langsung follow up, cek di lapangan dari sisi dikbud soal apa saja yang terjadi."

    Di Poso, operasi Tinombala masih terus dilakukan satuan TNI dan Polri untuk menangkap jaringan teroris Majelis Indonesia Timur itu. Operasi dilakukan sejak Januari 2016. Mereka berhasil meringkus sedikit demi sedikit anggota Santoso.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?