Perjalanan Kasus Kopi Maut Mirna

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka Jessica Kumala Wongso dikawal petugas saat tiba di rutan wanita Pondok Bambu, Jakarta, 27 Mei 2016. Polda Metro Jaya menyatakan berkas perkara kasus kopi beracun yang menjerat tersangka Jessica Wongso akhirnya lengkap yaitu P21. Berdasarkan ketentuan pasal 139 KUHAP secara formil dan materil berkas perkara dapat dilimpahkan ke pengadilan. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Tersangka Jessica Kumala Wongso dikawal petugas saat tiba di rutan wanita Pondok Bambu, Jakarta, 27 Mei 2016. Polda Metro Jaya menyatakan berkas perkara kasus kopi beracun yang menjerat tersangka Jessica Wongso akhirnya lengkap yaitu P21. Berdasarkan ketentuan pasal 139 KUHAP secara formil dan materil berkas perkara dapat dilimpahkan ke pengadilan. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wayan Mirna Salihin, 29 tahun, tewas setelah meminum es kopi Vietnam yang dicampur sianida di salah satu kafe di Grand Indonesia pada 6 Januari 2016. Rekan Mirna saat kuliah di Australia, Jessica Wongso, 27 tahun, ditetapkan menjadi tersangka dalam kematian Mirna.

    Sampai hari ini, sudah hampir 120 hari Jessica berada di tahanan. Perempuan lulusan universitas di Australia ini harus menjalani empat kali perpanjangan penahanan karena penyidik Polda Metro Jaya kekurangan alat bukti untuk melanjutkan berkasnya ke pengadilan.

    Hari ini, berkas perkara Jessica dinyatakan lengkap. Dalam waktu dekat, kasus yang cukup menarik perhatian publik itu akan segera disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Berikut ini kronologi kasus tersebut.

    6 Januari 2016

    Mirna bertemu dengan rekannya, Jessica dan Hani, di Kafe Olivier setelah lama tak berjumpa pascaselesai kuliah. Mirna meminum es kopi Vietnam yang dipesankan Jessica. Setelah meminum seteguk, Mirna kejang dan tewas dengan mulut berbusa.

    9 Januari 2016

    Jenazah Mirna diizinkan diautopsi, sebelumnya pihak keluarga menolaknya.

    11 Januari 2016

    Kepolisian melakukan prarekonstruksi di lokasi tempat Mirna tewas. Jessica dan Hani hadir dalam prarekonstruksi itu.

    18 Januari 2016

    Dari hasil autopsi, penyidik memastikan Mirna tewas karena kandungan sianida dalam es kopi Vietnam yang diminumnya. Ada kandungan sianida 15 miligram.

    19 Januari 2016

    Penyidik meminta bantuan polisi Australia dalam penyelidikan pembunuhan Mirna. Hal tersebut dibutuhkan untuk mematahkan keterangan salah satu saksi yang tak sesuai dengan hasil penyelidikan.

    29 Januari 2016

    Jessica ditetapkan menjadi tersangka setelah menjalani beberapa kali pemeriksaan. Keesokan harinya, penyidik langsung melakukan penahanan.

    21 Februari 2016

    Penyidik polisi menyerahkan berkas perkara Jessica kepada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk pertama kalinya.

    3 Maret 2016

    Jaksa mengembalikan berkas karena dianggap belum lengkap.

    21 Maret 2016

    Penyidik kembali menyerahkan berkas Jessica yang sudah dilengkapi sesuai petunjuk jaksa untuk yang kedua kalinya.

    4 April 2016

    Jaksa pun kembali mengembalikan berkas itu karena masih ada yang harus dilengkapi penyidik.

    22 April 2016

    Berkas perkara Jessica diserahkan untuk yang ketiga kalinya kepada jaksa. Lagi-lagi berkas dikembalikan ke penyidik agar dilengkapi keterangan ahli racun.

    10 Mei 2016

    Penyidik kembali menyerahkan berkas Jessica yang sudah dilengkapi dengan keterangan saksi ahli racun.

    17 Mei 2016

    Berkas dikembalikan untuk yang keempat kalinya, agar alat bukti dilengkapi. Salah satunya terkait dengan Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLA) dari penyidikannya di Australia bersama Australian Federal Police (AFP).

    18 Mei 2016

    Penyidik menyerahkan kembali berkas perkara Jessica yang kelima kalinya.

    27 Mei 2016

    Berkas perkara Jessica dinyatakan lengkap dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Jessica pindah ke Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.