Saluran Irigasi Ambrol, Ribuan Hektare Sawah Gagal Panen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Pekalongan - Ribuan hektare sawah di Kabupaten Pekalongan terancam gagal panen lantaran saluran irigasi induk di dekat bendung Pesantren Klatak, Kecamatan Kedungwuni, jebol. Bendung yang menjadi saluran air utama di Kecamatan Wonopringgo, Bojong, Wiradesa, Sragi, Wonokerto, dan Siwalan ini ambrol sejak Kamis, 28 April lalu.

    Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kecamatan Kedungwuni, Suripto, mengatakan, luas lahan persawahan yang terdampak mencapai 3.600 hektare. Lahan seluas itu terletak di sebelah barat 2.200 hektare di Kecamatan Wonopringgo dan sekitarnya. Lalu di sebelah timur sekitar 1.400 hektare yang meliputi kecamatan Buaran, Kedungwuni, dan Tirto.

    Suripto mengatakan, saluran yang menuju ke arah barat masih bisa diupayakan dengan membuat saluran sementara. Sedangkan saluran yang mengalir ke timur terputus total. "Sama sekali tidak bisa dialiri air," kata dia, Jumat, 29 April 2016.

    Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukanto, mengatakan, saluran yang ambrol sejak dibangun pada 1918 hingga kini belum pernah diperbaiki. Pemerintah hanya melakukan pemeliharaan secara rutin.

    Pemerintah berusaha membangun saluran darurat agar tanaman padi di lahan 2.200 hektare di sekitar Kecamatan Wonopringgo tidak gagal panen. "Kalau di wilayah timur (Kecamatan Kedungwuni dan sekitarnya) sudah tidak bisa tertolong lagi," kata Bambang.

    Menurut dia, untuk membuat saluran darurat dikhawatirkan akan menambah parah kerusakan padi. Kendati demikian pihaknya masih mengupayakan akan mendatangkan pompa air ke lokasi. "Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana, untuk meminjam dua pompa air," ujarnya.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.