Bupati Yoyok Buka-bukaan Cara Kelola APBD  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo memberikan sambutan usai menerima Penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) 2015 di Jakarta, 5 Nopember 2015. TEMPO/Frannoto

    Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo memberikan sambutan usai menerima Penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) 2015 di Jakarta, 5 Nopember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.COJakarta - Bupati Kabupaten Batang Yoyok Riyo Sudibyo mengungkapkan, selama menjalankan komitmen transparansi dan akuntabel dalam tata kelola keuangan daerah, dia mendapat banyak intervensi. Salah satunya dari DPRD. "Intervensi dari mana saja karena saya juga masih kurang ilmu, jadi wajar kalau ada intervensi," katanya dalam acara launching Festival Anggaran 2016, di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad, 6 Maret 2016.

    Namun Yoyok menanggapi intervensi tersebut sebagai suatu hal yang positif. "Intervensi buat bantu tambal sana sini," ucapnya. Menurut dia, hal itu bentuk dari rasa peduli dengan memberi saran dan masukan. 

    Yoyok menceritakan pengalamannya dulu ketika baru menjabat bupati. Dia kesulitan memahami dan mengelola keuangan, khususnya APBD. Dia pun berguru tentang pengelolaan anggaran kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. "Saya belajar sama Bu Risma. Sistem-sistem soal anggaran itu sudah ada di beberapa daerah lain dan bisa disadur atau ditiru asal kita berkomitmen," katanya.

    Yoyok menuturkan dia saat ini tengah berfokus kembali menggelar Festival Anggaran 2016 pada 13-15 April 2016 mendatang. Yoyok berujar festival anggaran akan menjadi semacam laporan pertanggungjawaban kepada rakyat terkait dengan penggunaan APBD. Rakyat pun ditempatkan sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Menurut dia, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melaporkan penggunaan anggaran setiap tahunnya kepada masyarakat. 

    Festival yang dihelat untuk kedua kalinya ini bertema inspirasi untuk kepala daerah baru guna mewujudkan tata kelola anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang transparan, akuntabel, dan prorakyat. 

    Bupati yang pernah diganjar penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award 2015 itu mengungkapkan alasannya menggelar festival itu adalah untuk menginspirasi para kepala daerah lain, khususnya kepala daerah baru yang masih minim pengalaman tentang pengelolaan anggaran. Dia pun becermin dari pengalamannya ketika baru menjabat sebagai bupati pada 2013 lalu. "Saya merasa sangat limbung soal anggaran sewaktu menjabat," ucapnya. Karena itu, dia ingin membagi pengalamannya kepada kepala daerah lain. 

    GHOIDA RAHMAH 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.