Majestic Land, Developer Apartemen Ini Diburu Warga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisnu Tri Anggoro, CEO PT Graha Anggoro Jaya selaku pemilik brand Majestic Land. majesticland.co.id

    Wisnu Tri Anggoro, CEO PT Graha Anggoro Jaya selaku pemilik brand Majestic Land. majesticland.co.id

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pengembang properti yang bergerak di bidang pembangunan apartemen dan kondotel, PT. Graha Anggoro Jaya selaku pemilik brand Majestic Land, diduga kuat melakukan penipuan pada ratusan warga dengan total nilai investasi ratusan miliar melalui penawaran sejumlah proyek properti di Daerah Istimewa Yogyakarta dan kota lain.

    Di Yogyakarta, Majestic Land memiliki sejumlah titik proyek hunian prestisius. Namun proyek-proyek itu mangkrak tak berlanjut atau belum dimulai sama sekali. Proyek-proyek Majestic Land tersebar sedikitnya di tujuh titik di tiga kabupaten/kota yakni Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

    Salah satu rencana proyek yang sempat dipasarkan secara gencar Majestic Land sepanjang 2014-2015 silam yakni sebuah apartemen eksklusif di Jalan Kaliurang KM 10, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Apartemen setinggi 12 lantai yang dalam gambar rencana pemasarannya berbentuk muka huruf ‘M’ itu akan terintegrasi dengan pusat perbelanjaan modern dan fasilitas lux.

    “Saya sudah bayar cash untuk dua unit apartemen di M-Icon senilai Rp 730 juta, tapi sudah setahun dibayar kok tak kunjung dibangun dan kantornya malah sudah kosong,” ujar Solahuddin, warga asal Kalimantan yang menetap di Yogya kepada Tempo, Selasa 9 Februari 2016.

    Pada Kamis 4 Februari 2016 lalu, belasan pembeli yang sudah membayar untuk apartemen M-Icon menggeruduk kantor Majestic Land yang berada di lantai lima Wisma Hartono di Jalan Jendral Sudirman, Yogyakarta. Namun kantor yang memiliki dua lantai itu sudah tersegel gembok dan kosong tanpa penghuni.

    Solahuddin menuturkan, saat ini setidaknya sudah 19 orang pembeli kavling di M-Icon yang secara resmi sudah melaporkan Majestic Land ke Kepolisian DIY atas dugaan penipuan. Solahuddin yakin, ada ratusan pembeli juga tertipu hanya saja mereka belum mengetahui jika Majestic sudah kabur dan tak terlacak.

    “Proyeknya di Yogya banyak, tapi kami cek, semua sudah berhenti atau tak dimulai juga pembangunannya, jadi sudah tak ada yang bisa kami hubungi lagi untuk soal ini,” ujarnya.

    Sejumlah proyek Majestic Land yang tak ada kabar kelanjutannya seperti proyek apartamen Best Western di Jalan Adisutipto Sleman Yogyakarta, apartemen Majestic Grand Bale di Timoho Kota Yogyakarta, dan Villa Krebet di Kabupaten Bantul.

    Koordinator Forum Pemantau Independen Kota Yogyakarta Winarta menuturkan, maraknya rencana pembangunan apartemen komersial di Kota Yogyakarta mengandung potensi penipuan besar dan merugikan masyarakat luas.

    “Sebab sampai saat ini pemerintah tak bisa mengizinkan apartemen berdiri karena belum ada peraturan daerah-nya, jadi dipastikan jika ada berdiri apartemen pasti illegal,”ujar Winarta.

    Namun Winarta menyesalkan, ketika pemerintah belum dapat mengeluarkan izin, para pengembang itu seenaknya bisa memasarkan. Meski hanya bermodal lahan-lahan yang dimiliki atau masih dalam proses beli dari warga.

    “Seharusnya pengembang yang memasarkan sebelum izin keluar itu ditindak,” ujar Winarta.

    Kepala Bidang Pelayanan Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, Setiono, membenarkan, pemerintah Kota Yogyakarta tak pernah mengeluarkan satupun izin pendirian apartemen di wilayah perkotaan.

    “Jadi yang akan dibangun Majestic Land jelas illegal dan itu kami catat sebagi rekan jejak buruk jika unsure penipuannya terbukti,” ujarnya. Namun Setiono menuturkan pemerintah kota tak punya kewenangan melarang instansi atau individu yang memasarkan property meskipun itu tak berizin.

    “Kami hanya bisa wanti-wanti, sebelum membeli property silahkan cek pada kami apakah sudah berizin belum,” ujar Setiono.

    Setiono menuturkan, Dinas Perizinan tak berani mengeluarkan izin pembangunan apartemen atau rumah susun, meski sudah pemerintah kota sudah memiliki peraturan walikota tentang rumah susun Nomor 7,8, dan 9 tahun 2015.

    “Karena saat ini rancangan peraturan daerah rumah susun sudah dibahas DPRD, kami tak mau tumpang tindih dasar hukumnya saat mengeluarkan perizinan,” ujarnya.

    Sejumlah orang yang pernah menjadi bagian dari tim pemasaran Majestic Land pun saat coba dihubungi Tempo nomor telepon selulernya tidak aktif. Padahal sebelumnya tim marketing itu gencar sekali memasarkan di situs jual beli online.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.