Mojokerto Pulangkan Eks Gafatar di Panti Werdha Majapahit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (kanan) menyambut kedatangan sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dipulangkan dari Kalimantan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, 23 Januari 2016. ANTARA/Umarul Faruq

    Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (kanan) menyambut kedatangan sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dipulangkan dari Kalimantan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, 23 Januari 2016. ANTARA/Umarul Faruq

    TEMPO.CO, Mojokerto - Sebanyak 33 orang eks pengikut ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kabupaten Mojokerto telah dipulangkan ke desa asalnya masing-masing. Mereka dipulangkan dari Kalimantan ke Mojokerto dan sempat ditampung di  Panti Werdha “Mojopahit” di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

    “Semua sudah dipulangkan, baik yang gelombang pertama maupun  kedua,” kata Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto Susi Sri Utami, Kamis, 28 Januari 2016.

    Sebanyak 33 orang itu dipulangkan dari Kalimantan ke Mojokerto dalam dua tahap yakni  23 orang tahap pertama disusul sepuluh orang tahap kedua. “Kami juga memberikan santunan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur per kepala keluarga Rp 500 ribu,” ujarnya.

    Pemerintah daerah, kata dia, juga membantu menguruskan data kependudukan dan dokumen penting milik eks pengikut Gafatar yang hilang atau terbakar setelah permukiman mereka di Kalimantan dibakar massa. “Mereka sudah dibuatkan KTP dan KK yang baru. Selain itu, ijazah dan buku nikah yang terbakar juga akan dibuatkan lagi tapi butuh proses,” kata Susi.

    Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto Hariono mengatakan sampai sekarang sudah 33 orang eks Gafatar yang dipulangkan ke Mojokerto. “Kami belum tahu apakah masih ada lagi, kami menunggu informasi dari pemerintah provinsi dan pusat,” katanya.

    Hariono menambahkan bahwa camat dan kepala desa serta perangkat desa akan memantau para eks Gafatar yang sudah kembali ke desa masing-masing. “Tentu akan dipantau terus dan diberi wawasan kebangsaan,” katanya.

    Namun tidak semua eks Gafatar kembali tinggal di desa asal mereka. Seperti yang dialami pasangan suami isteri Anton dan Sri Wanti asal Desa Jatikulon, Kecamatan Mojoanyar. Mereka lebih memilih tinggal dengan kerabat di Kabupaten Sidoarjo. “Mereka trauma dan malu jika kembali ke desa mereka,” kata salah satu petugas Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto.

    Anton enggan diwawancarai. Namun menurut informasi yang dihimpun, ia memilih tinggal di Sidoarjo karena masih ada kerabat dan banyak bekas teman satu tempat kerja  yang bersedia menampungnya.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.