Ulang Tahun Megawati Tidak Dirayakan, Ini Alasannya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menari saat menyanyikan mars partai dalam acara penutupan Rapat Kerja Nasional I PDI Perjuangan di Jakarta, 12 Januari 2016. Rakernas I PDIP telah selesai diselenggarakan. Acara itu ditutup dengan pidato penutupan dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menari saat menyanyikan mars partai dalam acara penutupan Rapat Kerja Nasional I PDI Perjuangan di Jakarta, 12 Januari 2016. Rakernas I PDIP telah selesai diselenggarakan. Acara itu ditutup dengan pidato penutupan dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto menyatakan, pada ulang tahun Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri hari ini, Mega tidak menggelar perayaan ulang tahunnya secara khusus. “Melihat situasi nasional saat ini, di mana kita baru saja berduka karena serangan teroris,” kata Hasto saat dihubungi pada Sabtu, 23 Januari 2016.

    Menurut Hasto, siang nanti, DPP PDIP hanya akan menggelar pertemuan di kediaman Mega untuk doa dan makan siang bersama yang diiringi dengan pemotongan tumpeng. Rencananya, sahabat-sahabat Mega juga akan datang dalam acara syukuran itu. “Kami memang bertemu, berkumpul di rumah Ibu Mega. Namun untuk bersyukur, bukan sebuah perayaan,” tuturnya.

    Hasto pun berharap, pada usia yang menginjak 69 tahun ini, Mega diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta umur panjang. Menurut dia, semua jajaran partai sangat memerlukan kepemimpinan Megawati. 

    Megawati yang bernama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Dia merupakan anak kedua dari Presiden Indonesia yang pertama, Sukarno, dengan Fatmawati. Pada 1999, Mega mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyusul terjadinya konflik dalam tubuh PDI. Saat itu pula, PDIP memenangi pemilu. Namun, dalam Sidang Umum MPR, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur-lah yang menjadi presiden.

    Selanjutnya, Megawati menggantikan posisi Gus Dur sebagai presiden ketika MPR mencabut mandat terhadap Gus Dur. Megawati menjabat sebagai presiden selama tiga tahun hingga 20 Oktober 2004. Ia sekaligus menjadi presiden wanita Indonesia yang pertama.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.