Pers di Indonesia Dinilai Kena Sindroma Berlusconian  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagir Manan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Bagir Manan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Peneliti pers dan penulis buku Press Freedom, Law and Politics, Herlambang P. Wiratraman, menilai kebebasan pers di Indonesia mengalami sindrom Berlusconian. 

    Sindrom ini, kata dia, ditandai banyaknya pemilik media di Indonesia menangguk keuntungan politik dari propaganda media. "Yang terjadi adalah Berlusconian Politics ala Italia," katanya dalam diskusi di gedung Dewan Pers, Rabu, 20 Januari 2016. 

    Herlambang menilai perkembangan ini bisa berpengaruh buruk untuk kemerdekaan pers  sendiri. "Itu terkait konten, perlu ada regulasi menuju ke sana." Regulasi ini penting, kata Herlambang, untuk menjauhkan media informasi dari berita yang bersifat manipulatif.  

    Buku Press Freedom, Law and Politics ini merupakan disertasi yang ditulis Herlambang saat menempuh pendidikan untuk meraih gelar doktor di Universitas Leiden, Belanda. Ia mengaku tertarik meneliti masalah ini karena resah melihat kematian jurnalis yang cukup banyak di Indonesia pada 2008-2009.

    "Saya keliling Indonesia, di luar Jawa itu banyak wartawan alami kekerasan dan banyak pula yang tak bisa dibawa ke pengadilan," tuturnya.

    Ketua Dewan Pers Bagir Manan memuji buku ini. Dia meminta para wartawan di media massa mempertahankan integritas agar tidak akan diganggu pemilik media.  

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.