Gunung Bromo Siaga, BPBD: Belum Perlu Evakuasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengendara motor melintas di padang sabana Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, 13 November 2015. ANTARA/Umarul Faruq

    Seorang pengendara motor melintas di padang sabana Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, 13 November 2015. ANTARA/Umarul Faruq

    TEMPO.CO, Surabaya - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menyiapkan dua skema kawasan rawan bencana guna menyikapi naiknya status Gunung Bromo dari waspada menjadi siaga. Menurut Kepala BPBD Jawa Timur Sudarmawan, BPBD telah membuat rencana kontijensi.

    Rencana kontijensi ini, kata Sudarmawan, sangat diperlukan untuk merencanakan tindakan-tindakan yang akan dilakukan jika terjadi bencana. Untuk kasus Gunung Bromo, BPBD telah membuat rencana tersebut dengan radius yang berbeda.

    "Ini karena, menurut anjuran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, statusnya sudah siaga, jadi perlu dibuat rencana kontijensi," ujarnya ketika dihubungi Tempo, Jumat, 4 Desember 2015.

    BPBD membuat Kawasan Rawan Bencana (KRB) I berada pada radius 6 kilometer dari kawah Gunung Bromo. Sedangkan KRB II berada pada radius 12,5 kilometer dari kawah gunung.

    "Tapi, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang terlarang hanya 2,5 km dari kawah. Tapi, karena di area itu tidak ada penduduknya, kami tambah lagi menjadi seperti itu," ujarnya.

    Meskipun begitu, BPBD mengimbau masyarakat tidak perlu panik dan terpancing oleh kabar adanya erupsi Gunung Bromo. Hal ini karena status Gunung Bromo masih siaga dengan radius terlarang 2,5 kilometer dari kawah. "Belum perlu evakuasi," ujarnya.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status aktivitas Gunung Bromo dari waspada menjadi siaga. "Tingkat aktivitas Gunung Bromo dinaikkan dari level II menjadi level III terhitung sejak pukul 14.00 WIB pada Jumat, 4 Desember 2015," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Bromo, Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, M. Subchan, kepada Tempo.

    Menurut Subchan, jarak aman berada di luar radius 2,5 kilometer dari pusat kawah Bromo. "Tidak ada pengungsian karena jarak 2,5 kilometer masih di dalam kaldera," tuturnya.

    Akibatnya, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup kaldera (laut pasir, kawah, savana) dari seluruh kegiatan wisata. Namun, pemandangan matahari terbit tetap dapat dinikmati dari Gunung Penanjakan, Bukit Setya, dan Bukit Cinta. "Sementara pintu yg dibuka dari arah Wonokitri Pasuruan," Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ayu Dewi Utari.

    EDWIN FAJERIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.