Kenangan Uskup Agung Semarang: Taat Bagai Mayat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prosesi penghantar jenazah Uskup Agung Semarang Mgr. Johanes Maria Pujasumarta di Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Sleman, Yogyakarta, 13 November 2015. Ribuan pelayat ikut antar jenazah untuk disemayamkan. TEMPO/Pius Erlangga

    Prosesi penghantar jenazah Uskup Agung Semarang Mgr. Johanes Maria Pujasumarta di Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Sleman, Yogyakarta, 13 November 2015. Ribuan pelayat ikut antar jenazah untuk disemayamkan. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta-Misa Requiem atau penghormatan terakhir bagi Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta berlangsung khusyuk di kapel komplek Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta, Jumat, 13 November 2015.

    Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin saat homili atau sesi perenungan misa, yang dihadiri ribuan umat itu, menuturkan kalimat paling diingatnya dari Uskup Puja. Beliau kerap mengatakan, “Orang kudus itu akan taat bagai mayat”.

    "Sikap ini menunjukkan sikap pasrah sepenuhnya pada apapun jalan yang dikehendaki Tuhan, termasuk kepasrahan beliau ketika mengetahui sakit ganas," ujar Bunjamin.

    Uskup Pujasumarta meninggal dunia di RS Elisabeth Semarang pada Selasa, 10 November pukul 23.30 WIB. Uskup Puja menderita kanker paru-paru sejak satu tahun terakhir.

    Bunjamin menuturkan, Puja sebagai rohaniwan, yang selama pelayanan terus berpindah tugas, benar-benar telah melaksanakan pedoman hidup sebagai rohaniwan yang taat bagai mayat itu.
    "Sebagai hamba, dia berani menyangkal dirinya, memandang dalam pelayanan, tak ada gengsi dan harga diri yang harus dipertahankan karena sepenuh hidup untuk jalan Tuhan," ujarnya.

    Sepanjang pengabdiannya, ujar Bunjamin, Uskup Puja dikenal sebagai rohaniwan yang tak diskriminatif memberikan pelayanan. Berbagai kalangan dari bermacam-macam latar dan usia dirangkulnya.

    "Sehingga banyak umat yang menganggap Uskup Puja sebagai 'ini bapak saya, ini mbah saya, ini gembala saya'," ujarnya.

    Bunjamin pun mengenang, belum lama sebelum Uskup Puja mangkat, ia sempat menghadiri sebuah Misa Requiem jenazah seorang kerabat rohaniwan. Namun, saat doa, pembawa acara salah menyebut nama jenazah yang didoakan dengan namanya.

    Mendengar namanya yang didoakan meninggal, Uskup Puja, yang tengah sakit itu, hanya tertawa sambil berujar, “Biasanya orang yang didoakan panjang umurnya.”


    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.