Ceu Popong Akan Suarakan Jaipong Jadi Warisan Budaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota DPR, Popong Otje Djundjunan alias Ceu Popong, pernah menjadi gadis pendamping bagi delegasi KAA 1955 di Bandung. Ia bertugas mendampingi Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser di acara makan malam penutupan KAA.  TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    Anggota DPR, Popong Otje Djundjunan alias Ceu Popong, pernah menjadi gadis pendamping bagi delegasi KAA 1955 di Bandung. Ia bertugas mendampingi Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser di acara makan malam penutupan KAA. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, Karawang -Anggota Komisi X  DPR RI, Popong Otje Djunjunan, punya kepedulian terhadap seni tari Jaipong. Perempuan yang akrab dipanggil Ceu Popong ini  berjanji mendukung wacana tari Jaipong menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

    Untuk memberikan dukungannya ini, dia meminta Pemerintah Daerah Karawang mendukung penuh rencana Suwanda, seniman pencipta Jaipong untuk melindungi karya kreasinya.  Menurutnya Pemda Karawang harus mengirimkan permintaan resmi tentang hal ini.

    "Saya siap menyuarakan Jaipong di Komisi X. Pemda harus membantu upaya warganya, untuk memelihara kesenian khas Karawang," ujar Ceu Popong itu, saat ditemui di Aula Husni Hamid, usai menghadiri acara temu alumni Universitas Pasundan di kompleks Pemda Karawang, Kamis, 12 November 2015. 

    Sebelumnya, Suwanda berencana mengajukan karyanya untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Ia beharap, jika sudah ditetapkan, punya kekuatan hukum untuk melindungi karya budaya kreasinya. 

    "Jaipong lahir di Karawang. Tarian itu mutlak ciptaan saya, upaya ini saya lakukan supaya orang-orang tahu, kalau Jaipong itu berasal dari Karawang," kata Suwanda, kepada Tempo, beberapa waktu lalu. lalu. 

    Menurut Ceu Popong, upaya dari pemda Karawang perlu dilakukan, karena saat ini 
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk terus mendorong perlindungan atas warisan budaya tak benda agar tidak diklaim oleh negara lain. 

    Bulan lalu, pemprov mengajukan tiga karya budaya agar terdaftar dalam Warisan Budaya tak Benda Indonesia. Ketiga karya budaya itu adalah Penca, Kelom Geulis khas Tasik, dan Upacara Ngarot. Proses pengajuan ketiga karya budaya ini sudah berlangsung sejak Maret dan seluruh proses penyusunan data telah dirampungkan pada Oktober 2015. 

    Melalui Tim Gugus HKI Warisan Budaya Jabar, Pemprov Jabar akan terus meningkatkan upaya pemetaan hingga pendataan terhadap berbagai karya budaya yang ada. Upaya tersebut akan dilanjutkan dengan upaya pemberkasan data dan pendaftaran karya budaya yang bersangkutan, kepada Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan agar tercatat sebagai WBTB Indonesia.

    HISYAM LUTHFIANA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.