Titik Api Berkurang, Kabut Asap di Kalimantan Masih Pekat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Samarinda - Meski jumlah titik api akibat kebakaran hutan di Kalimantan Timur sudah menurun drastis, kabut asap di daerah itu masih cukup pekat. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Samarinda Sutrisno mengatakan pada pukul 13.00 WIB hari ini, terpantau jarak pandang di Kota Samarinda hanya 800 meter.

    "Memang masih pekat, tapi dibandingkan kemarin, jarak pandang sudah bertambah,” kata Sutrisno, Jumat, 16 Oktober 2015. Dia mengatakan, pada Kamis kemarin, jarak pandang di Kalimantan Timur hanya 500 meter.

    Kepungan kabut asap di Kota Tepian--sebutan lain Kota Samarinda--masih terasa. BMKG mengukur kepekatan kadar asap dalam setiap meter kubik mencapai 90 mikrogram pada siang hari. kepekatan asap sempat mencapai angka 111 mikrogram per meter kubik pada pagi hari.

    Sutrisno mengatakan, pantauan satelit Terra Aqua BMKG, terdeteksi masih ada enam titik api kebakaran hutan. Padahal tercatat sehari sebelumnya ada 537 titik api di wilayah Kalimantan Timur.

    Enam titik api tersebut berada di dua daerah, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak lima titik dan Kabupaten Paser satu titik. "Sekarang memang turun, tapi tak bisa menjamin akan terus menurun," kata Sutrisno.

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.