Kisah Kapolri Badrodin Haiti Dipukul Gesper Bapaknya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Pol  Badrodin Haiti, memberikan arahan kepada para prajurit TNI dan Polri di markas 700/Raider di Makassar, 11 Mei 2015. TEMPO/Iqbal Lubis

    Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti, memberikan arahan kepada para prajurit TNI dan Polri di markas 700/Raider di Makassar, 11 Mei 2015. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jember - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti berkunjung ke Pondok Pesantren Baitul Arqom, Desa Tutul, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Sabtu 10 Oktober 2015. Di hadapan ribuan wali santri, santri, guru, ustad serta pengasuh pesantren, Badrodin berkisah tentang sekelumit kehidupan masa kecilnya.

    "Bercerita perjalanan hidup saya, saya bukan berasal dari keluarga yang hebat," kata Badrodin. Dia berasal dari keluarga dengan latar belakang petani. "Saya dari keluarga petani," katanya. Ibunya setiap hari mengurusi sawah dan bapaknya setiap hari mengurusi anak-anak kampung yang mengaji di langgar sebelah rumahnya. Belajar mengaji sejak setelah salat subuh. "Kalau (saya) terlambat bangun dipukul dengan gesper. Mungkin sekarang tidak ada yang seperti itu," kata Badrodin.

    "Dan tidak pernah mendapatkan satu pilihan, mungkin karena waktu itu wawasan terbatas," katanya. Wawasan yang berkembang saat itu, sekolah itu untuk menjadi guru. "Paling banter itu," katanya. Ketika sudah waktunya bayar sekolah atau SPP, mengambil kelapa di kebun.

    Setiap bulan ambil kelapa dan dijual. "Untuk bayar SPP, alhamdulillah bisa tercukupi," kata dia. Ketika berangkat ke sekolah, dari Paleran ke Balung jaraknya sekitar 8 kilometer dan ditempuh dengan naik sepeda pancal.

    "Kadang sarapan kadang tidak. Dan saya tidak pernah diarahkan oleh orang tua mau kemana ke depannya," kata dia. Yang penting, kata dia, orang mengharuskan dirinya untuk sekolah. "Kalau toh mau masuk perguruan tinggi, ya di Institut Agama Islam Negeri dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan," kata dia.

    Tamat sekolah dari Baitul Arqom, Badrodin kemudian sekolah di SMA di Rambipuji. "Setahun, di SMA Mercusuar, tidak betah di situ. Pindah ke SMA VIP di Tanggul. Itu juga cari sendiri dan tiada yang mengarahkan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.