6 Jenazah Korban Trigana Air Ditandu Lewat Darat ke Oksibil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas membawa kantong berisikan jenazah saat berada di lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua, 18 Agustus 2015. Pesawat Trigana Air menabrak pegunungan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. REUTERS/Basarnas/Handout via Reuters

    Sejumlah petugas membawa kantong berisikan jenazah saat berada di lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua, 18 Agustus 2015. Pesawat Trigana Air menabrak pegunungan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. REUTERS/Basarnas/Handout via Reuters

    TEMPO.CO, Jayapura - Sebanyak enam jenazah korban jatuhnya pesawat Trigana ATR 42 PK YRN dievakuasi lewat jalur darat oleh tim evakuasi dari Tim SAR Gabungan. "Kondisi saat ini tak memungkinkan diangkut lewat helikopter karena faktor cuaca. Jadi harus memakai jalur darat," ujar Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Letkol Infantri Pudji Teguh Raharjo kepada wartawan di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu, 19 Agustus 2015.

    Menurut Raharjo, evakuasi jenazah menggunakan opsi yang ketiga, yakni seluruhnya dengan jalan darat. "Sampai saat ini dari laporan komandan kodim setempat, sebelum jam 12.00 WIT tadi, ada empat jenazah yang dibawa tim pencari dan satu jenazah dibawa 15 orang jalan darat. Terus sekitar jam 12.00 WIT tadi, ada dua jenazah yang dibawa 30 orang dari lokasi ke arah Oksibil. Tapi sampai saat ini belum terkonfirmasi apakah sudah sampai di Oksibil sebab masih berproses ke jalan yang bisa dilalui kendaraan," kata Raharjo.

    Sejak pagi hingga saat ini, kata Raharjo, lokasi ditemukannya para korban pesawat Trigana Air belum bisa didarati helikopter. Sebab dari informasi yang didapat, cuaca hujan dan berkabut sejak pagi tadi.

    "Sehingga belum ada kepastian kapan jenazah ini dievakuasi ke Jayapura. Tapi yang jelas, Black Box pesawat sudah berada di Oksibil dan sudah diserahkan pihak Basarnas ke pihak KNKT di Oksibil," ujar Raharjo.

    Warga setempat bernama Roberth, 36 tahun, mengatakan masyarakat setempat mendesak 54 jenazah dibawa lewat jalur darat ke Oksibil kemudian diangkut lewat udara ke Jayapura. Alasannya, jenazah yang ada saat ini sudah mulai rusak dan membusuk, sehingga bisa mengganggu kesehatan warga yang ada. "Jika tak segera dievakuasi, jenazah sudah membusuk," katanya.

    Danlanud Jayapura Kolonel PNB I Made Susila Adyana mengatakan cuaca sejak pagi di Oksibil tak memungkinkan untuk dilakukan penerbangan karena hujan deras dan kabut menempel di tanah. "Ada dua alternatif untuk mengangkut jenazah korban Trigana. Jika tak bisa melalui jalan udara, akan ditempuh dengan jalur darat," katanya.

    Dari data yang didapat, jika tim evakuasi menggunakan jalur perjalanan darat, maka waktu yang ditempuh sekitar enam jam perjalanan dari lokasi jatuhnya pesawat ke Bandara Oksibil. Tim evakuasi harus berjalan selama empat jam dari lokasi awal ditemukannya jenazah ke arah jalan yang bisa dilalui kendaraan. Setelah itu, dilanjutkan dengan kendaraan ke Oksibil dengan jarak tempuh sekitar satu hingga dua jam lamanya.

    Pesawat Trigana Air rute Jayapura-Oksibil dengan nomor registrasi PK-YRN dan nomor penerbangan IL-257 take off dari Bandara Sentani, Jayapura, pukul 14.22 WIT, Ahad, 16 Agustus 2015 dan diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT. Pesawat tersebut melakukan kontak terakhir dengan Menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT. Pada pukul 15.00, Menara Bandara Oksibil melakukan kontak dengan pesawat, tapi tidak ada jawaban.

    Pesawat Trigana Air IL-257 yang mengalami hilang kontak membawa 49 penumpang, terdiri atas 44 orang dewasa, tiga anak-anak, dan dua bayi. Terdapat lima kru dalam pesawat Trigana Air IL-257, yaitu kapten pilot Hasanudin, kopilot Ariadin F, pramugari Ika N dan Dita A, serta teknisi Mario.

    CUNDING LEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.