Merah-Putih Raksasa Dikibarkan di Perbatasan Timor Leste

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa SD berjalan membawa bendera untuk mengikuti upacara di sekolah mereka yang berjarak sekitar 10-15 kilometer di Desa Looluna, Belu, NTT, Kamis (4/7). Pendidikan Dasar di perbatasan Indonesia-Timor Leste tersebut terkendala jarak dan minimnya fasilitas pendidikan, termasuk guru dan buku pelajaran sehingga masyarakat berharap pemerintah pusat dapat memberikan bantuan itu. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Siswa SD berjalan membawa bendera untuk mengikuti upacara di sekolah mereka yang berjarak sekitar 10-15 kilometer di Desa Looluna, Belu, NTT, Kamis (4/7). Pendidikan Dasar di perbatasan Indonesia-Timor Leste tersebut terkendala jarak dan minimnya fasilitas pendidikan, termasuk guru dan buku pelajaran sehingga masyarakat berharap pemerintah pusat dapat memberikan bantuan itu. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Kupang - Pada perayaan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI ke-70, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgaspamtas) Batalion 744 dari Pos Baes, Desa Nainaban, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), bersama warga setempat menggelar upacara bendera di puncak bukit dengan mengibarkan bendera merah-putih berukuran raksasa.

    Bendera raksasa berukuran 5 x 3 meter itu dikibarkan di perbatasan Indonesia dengan Distrik Oecusse, Timor Leste. Upacara 17 Agustus 2015 itu berlangsung sangat sederhana. Warga yang mengikuti upacara hanya menggunakan sarung adat yang sudah usang dan bercelana pendek, tanpa alas kaki.

    Sebelum menggelar upacara, warga bersama personel TNI mengangkut bambu yang akan dijadikan tiang bendera dengan berjalan kaki sejauh 2 kilometer. Warga setempat berjanji akan menjaga bendera tersebut tetap berkibar di wilayah perbatasan. Hal itu merupakan rasa kecintaan warga di perbatasan negara itu terhadap NKRI.

    Komandan Pos Baen Letda Muslih mengatakan pengibaran bendera ini sebagai wujud cinta masyarakat di perbatasan kepada NKRI. Sekaligus memupuk rasa nasionalisme warga yang tinggal di wilayah perbatasan negara. "Kami minta warga menjaga bendera itu agar tidak rusak," ucapnya.

    Tokoh masyarakat setempat, Bernadus, berjanji akan menjaga bendera itu tetap dalam keadaan baik. Namun dia berharap pemerintah segera menyelesaikan masalah perbatasan di wilayah itu. "Pertikaian hingga perang tanding sering terjadi di wilayah ini. Jadi saya minta pemerintah segera menyelesaikan," ujarnya.

    YOHANES SEO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.