Penurunan Hot Spot, Siti Nurbaya: Kalimantan Barat Oke

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas pemadam kebakaran minum dari galor air, setelah lelah berusaha memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Siak, Riau, (4/3). Kebakaran lahan dan hutan menyebabkan polusi udara di beberapa propinsi di Sumatera. Oscar Siagian/Getty Images

    Seorang petugas pemadam kebakaran minum dari galor air, setelah lelah berusaha memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Siak, Riau, (4/3). Kebakaran lahan dan hutan menyebabkan polusi udara di beberapa propinsi di Sumatera. Oscar Siagian/Getty Images

    TEMPO.CO, Pontianak - Penurunan hot spot atau titik api di Kalimantan Barat mendapatkan apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

    "Saat ini sekitar 300 titik api berbanding 1.500-an di tahun lalu. Menurut saya ini, oke," kata Siti, Jumat, 10 Juli 2015, sebelum meninjau titik api melalui udara di Bandar Udara Supadio Pontianak.

    Siti mengatakan terjadi penurunan sekitar 26 persen titik api di Kalimantan Barat. Hal ini membuatnya sangat lega. "Cuma Sumatera Selatan yang masih bikin saya deg-degan," kata Siti Nurbaya.

    Hari ini Siti didampingi Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto, dan Deputi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tri Budiarto akan meninjau langsung titik api di Kalimantan Barat melalui udara.

    Christiandy menjelaskan, pemadam kebakaran swasta di Kalimantan Barat sangat proaktif ikut membantu memadamkan api. "Mereka bekerja secara gratis. Tidak memungut bayaran," ujarnya.

    Dia menyatakan kabut asap ini muncul dalam setiap musim tanam di Kalimantan Barat. Jika curah hujan minim, api yang rata-rata berada di lahan gambut menyebar tak terkendali.

    ASEANTY PAHLEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.