PT KAI Pangkas Waktu Pelayanan Loket di Stasiun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon penumpang mengisi formulir tiket kereta api di loket Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 11 Mei 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Sejumlah calon penumpang mengisi formulir tiket kereta api di loket Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 11 Mei 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Purwokerto - PT Kereta Api Indonesia akan memangkas waktu pelayanan pemesanan tiket di loket stasiun mulai 1 Juli 2015. Waktu pelayanan pemesanan tiket yang semula dimulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 21.00, diubah menjadi pukul 09.00 - 16.00. WIB, dengan waktu istirahat selama 45 menit (pukul 12.00 - 12.45 WIB).

    "Pemesanan tiket di loket stasiun akan dilayani dari pukul 09.00 sampai dengan 16.00. Di luar jam tersebut loket stasiun hanya akan melayani pembelian tiket go-show  atau tiket untuk keberangkatan langsung pada hari itu," kata Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 5 Purwokerto, Surono, Kamis 18 Juni 2015.

    Surono menjelaskan, tindakan ini untuk mengurangi kepadatan di stasiun dengan tujuan peningkatan pelayanan penumpang.
    Selain itu, keputusan ini juga untuk lebih memaksimalkan pemesanan tiket melalui saluran eksternal, internet, Contact Center 121 serta aplikasi smartphone (KAI Access dan Padiciti). “Calon penumpang tidak perlu datang ke stasiun dan antre di loket untuk membeli tiket,” ujarnya.

    Untuk meningkatkan pelayanan pemesanan tiket KA, saluran penjualan tiket eksternal yang terdiri dari agen tiket, Kantor Pos, Pegadaian dan gerai minimarket Alfamart, Indomaret, Alfamidi serta jaringan payment point terus ditingkatkan jumlahnya oleh PT KAI.

    Surono menambahkan, pemesanan tiket KA melalui saluran eksternal lebih menguntungkan bagi calon penumpang, karena dapat menghemat waktu dan biaya. “Setiap pembelian tiket di channel eksternal juga akan mendapatkan diskon,” katanya.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.