Operasi Pasar Jelang Lebaran, Bulog Siapkan Beras Premium

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembar harga beras tertempel di badan truk saat operasi pasar beras di Pasar Wonokromo, Surabaya, 26 Februari 2015. Setiap 5 kilogram beras di jual dengan harga 36.500 rupiah. TEMPO/Fully Syafi

    Lembar harga beras tertempel di badan truk saat operasi pasar beras di Pasar Wonokromo, Surabaya, 26 Februari 2015. Setiap 5 kilogram beras di jual dengan harga 36.500 rupiah. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Kediri - Berdasarkan survei yang telah dilakukan, Badan Urusan Logistik se-Jawa Timur berencana menjual beras premium dalam operasi pasar jelang Ramadan tahun ini. Hasil survei yang dilakukan pemerintah daerah setempat menyebutkan kalau telah terjadi peningkatan kualitas konsumsi beras di masyarakat sehari-hari.

    "Bulog tak lagi menjual beras murah kualitas medium," kata Kepala Bulog Sub Divisi Regional V Kediri, Wahyu Sutanto, mengungkapkan pada Senin, 8 Juni 2015.

    Beras premium ini rencananya akan dijual seharga Rp 8.700 per kilogram, lebih mahal dibanding beras medium yang biasa dijual Bulog senilai Rp 7.200 per kilogram. "OP serentak H-2 puasa," ujarnya menambahkan.

    Selain beras, operasi pasar juga akan dilakukan atas komoditas minyak goreng, gula dan tepung. Keempat komoditas itu, menurut Wahyu, menduduki peringkat teratas daftar belanja masyarakat sehari-hari dan rawan terjadi kenaikan harga.

    Bulog Kediri sendiri telah menetapkan enam titik operasi pasar dalam wilayah kerjanya yang meliputi Kota dan Kabupaten Kediri serta Kabupaten Nganjuk. Setiap titik akan menyediakan 500 liter minyak goreng, 500 kilogram gula pasir, 750 kilogram beras, dan 500 kilogram terigu.

    "Operasi pasar akan berlangsung setiap hari mulai tanggal 16 Juni hingga 18 Juli 2015 dengan jumlah stok tak terbatas."

    Rencana operasi pasar dengan melepas beras premium terbukti mendapat apresiasi dari masyarakat. Mereka mengaku kurang begitu menyukai kualitas beras yang biasa dijual Bulog sebelumnya.

    Beberapa berdalih membeli beras Bulog bukan untuk konsumsi sendiri, melainkan diberikan sebagai sedekah dan paket hari raya. “Kalau kualitasnya jelek kurang pantas,” kata Ayunda, warga Kelurahan Banjaran, Kediri.

    Namun dia juga berharap kenaikan harga beras Bulog ini juga disesuaikan dengan kemampuan masyarakat bawah. Sehingga Bulog tidak terkesan mencari untung dengan hanya menjual beras kualitas premium.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.