Jual-Beli Miras Makin Canggih, Sulit Diendus: Ini Caranya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepolisian Resor Banyumas memusnahkan 6.600 botol minuman keras hasil operasi penyakit masyarakat selama setahun di GOR Satria Purwokerto, Selasa 23 Desember 2014. Miras terus diburu oleh para polisi akibat beberapa waktu lalu, terjadi kasus kematian akibat miras di beberapa daerah. Aris Andrianto/Tempo.

    Kepolisian Resor Banyumas memusnahkan 6.600 botol minuman keras hasil operasi penyakit masyarakat selama setahun di GOR Satria Purwokerto, Selasa 23 Desember 2014. Miras terus diburu oleh para polisi akibat beberapa waktu lalu, terjadi kasus kematian akibat miras di beberapa daerah. Aris Andrianto/Tempo.

    TEMPO.COYogyakarta - Pelaksana tugas Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta Udiyono mengatakan pihaknya mewaspadai penjualan minuman keras keliling menjelang bulan puasa. Modusnya, penjual menggunakan sepeda motor atau mobil, lalu didrop di satu titik jalan. “Transaksi dengan konsumen lewat handphone,” ujarnya kepada Tempo, 2 Juni 2015.

    Selama ini, kata dia, penjualan minuman keras keliling baru ditemukan di wilayah Sleman. Namun transaksi keliling bisa dilakukan di wilayah perbatasan kota yang pengawasannya tak terlalu ketat. Wilayah yang mendapat perhatian adalah kawasan yang berbatasan dengan Kecamatan Kasihan, Bantul, dan Depok, Sleman.

    Menurut Udiyono, minuman keras yang dijual menggunakan sepeda motor diletakkan di bawah jok. “Sedangkan menggunakan mobil disimpan di dalam boks," katanya.

    Dalam operasi terakhir pada akhir Mei lalu, Dinas Ketertiban masih menemukan penjualan minuman beralkohol golongan A di warung-warung kecil yang tak memiliki izin. Dalam operasi itu, disita sekitar sepuluh kerat minuman beralkohol golongan A. "Untuk persiapan Ramadan, operasi miras lebih gencar pada awal Juni, termasuk kafe-kafe dan tempat hiburan,” tutur Udiyono.

    Dua pekan menjelang puasa, kawasan Lembah, Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi lokasi favorit para penjaja makanan dan minuman selama Ramadan. Area sepanjang 600 meter yang membentang dari masjid UGM hingga kandang menjangan ini menjadi lokasi ngabuburit masyarakat Yogyakarta.

    Lina Situmorang, seorang pengelola food court, mengatakan pedagang bisa mendaftarkan diri untuk menjajakan dagangan di kawasan ini. “Kami menyediakan 200 lapak, tapi tahun kemarin membeludak sampai 250 lapak,” ucapnya.

    Untuk berjualan di kawasan ini tidak dikenai biaya sewa, hanya uang keamanan dan kebersihan sebesar Rp 100 ribu untuk gerobak kecil dan Rp 210 ribu untuk gerobak besar. Lina mengatakan pedagang yang diperbolehkan berjualan di area tersebut hanya pedagang makanan dan minuman.

    Firman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), merupakan salah satu pedagang tiban yang berjualan di Lembah, UGM, selama bulan puasa. Dia mengaku sudah empat kali berdagang bersama rekannya menjajakan es buah kemasan gelas plastik. Tahun lalu omzetnya sebesar Rp 200 ribu selama empat jam.

    PRIBADI WICAKSONO | VENANTIA MELINDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.