PKS Mengaku Setia Dampingi Prabowo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua dari kanan) berjabat tangan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta usai menyaksikan penandatanganan  kontrak politik  di Kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu  (17/5).  TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua dari kanan) berjabat tangan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta usai menyaksikan penandatanganan kontrak politik di Kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (17/5). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera mengatakan akan terus berada dalam barisan Koalisi Merah Putih. Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera menjelaskan sikap itu diambil sebagai cermin etika berpolitik. “Kami ingin tetap setia,” ujarnya ketika dihubungi, Kamis, 24 Juli 2014.

    Mardani menjelaskan komitmen koalisi permanen tak hanya menjadi keputusan pengurus Dewan Pimpinan Pusat. Sikap itu juga telah mereka konsultasikan dengan Dewan Syuro PKS. “Intinya tidak etis jika ide (pindah koalisi) itu dilontarkan saat teman-teman koalisi sedang berjuang,” katanya. (Baca: JK Prioritaskan Menteri Koalisi Dalam Kabinet)

    Bagi PKS, kata Mardani, gagasan koalisi permanen merupakan terobosan dalam kultur politik di Indonesia. Sikap itu tidak semata bertujuan mendukung kemenangan pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, melainkan juga menjadi basis kerja sama di tingkat parlemen.

    “Di negara maju yang serius membangun identitas politik, mereka harus menentukan kelamin dengan jelas. Model koalisi permanen perlu ditempuh agar dapat mengimbangi kekuasaan eksekutif sejalan dengan visi dan misi yang dimiliki masing-masing partai,” katanya. (Baca: PKB Legawa Jokowi Pilih Menteri di Luar Koalisi)

    PKS pun mengaku tak tergoda meski sebagian anggota partai koalisi dikabarkan mulai merapat ke kubu Koalisi Indonesia Hebat. “Kami monggo-monggo saja. Itu dinamika yang harus kita hargai di era multipartai. Tapi apa yang dilakukan mereka tentu akan dilihat. Publik tidak bodoh,” katanya.

    RIKY FERDIANTO

    Terpopuler

    Pakar TI: Tidak Ada Hacker yang Gelembungkan Suara
    Remaja Salatiga Ungguli Insinyur Oxford Bikin Jet Engine Bracket
    Pulang Berlibur, Hotasi Nababan Dieksekusi
    Ahok Lebih Pilih Dian Sastro Jadi Wagub



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.