Selasa, 18 Desember 2018

Usai Malari, Banyak Media Dibredel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Edisi kali ini diantaranya memuat foto-foto dokumentasi Tempo tentang Malari yang belum pernah terbit. Foto: Dok Tempo/Syahrir Wahab

    Edisi kali ini diantaranya memuat foto-foto dokumentasi Tempo tentang Malari yang belum pernah terbit. Foto: Dok Tempo/Syahrir Wahab

    TEMPO.CO, Jakarta - Sore itu, 21 Januari 1974, sepekan setelah Kerusuhan Malari. Redaktur penyunting harian Indonesia Raya, Soekarya, menerima telepon dari wartawan harian Abadi dan KAMI yang memberitahukan bahwa surat izin cetak (SIC) mereka dicabut.

    Seperti ditulis Majalah Tempo dalam Edisi Khusus Malari, terbit 13 Januari 2014, Soekarya pun mengetiknya menjadi berita. Redaktur Kepala Victor Sihite memberi saran agar informasinya dicek dulu ke Pelaksana Khusus (Laksus) Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Daerah sekaligus untuk “minta keterangan tambahan”.

    Soekarya berhasil mendapatkan konfirmasi. Namun, informasi tambahan yang didapatkannya di luar dugaan. “Petugas Laksus menambahkan, ia akan menelepon bahwa SIC Indonesia Raya juga dicabut,” kata Atmakusumah Astraatmadja, Redaktur Pelaksana Indonesia Raya saat itu, mengenang peristiwa 40 tahun silam.

    Sikap “galak” terhadap pemerintah oleh surat kabar yang dipimpin Mochtar Lubis itu membuat Atmakusumah, kini 75 tahun, mengaku tak terlalu terkejut mendengar kabar tersebut. “Kami merasa setiap saat bisa dibredel.”

    Seperti Abadi dan KAMI, Indonesia Raya adalah surat kabar yang menjadi korban badai politik Malari, yang dianggap sebagai “ekor” dari perseteruan asisten pribadi Soeharto, Ali Moertopo, dan Panglima Kopkamtib Soemitro.

    Pembredelan, yang dilakukan dengan cara mencabut SIC oleh Kopkamtib dan surat izin terbit (SIT) oleh Kementerian Penerangan, terjadi setelah peristiwa itu: harian Nusantara pada 16 Januari; harian Suluh Berita di Surabaya 19 Januari; mingguan dari Bandung, Mahasiswa Indonesia, 20 Januari; harian KAMI, Indonesia Raya, Abadi, The Jakarta Times, serta mingguan Wenang dan Pemuda Indonesia 21 Januari; harian Pedoman serta mingguan Ekspres 24 Januari; dan harian Indonesia Pos di Makassar pada 2 Februari.

    Alasan pembredelan, seperti termuat dalam surat kepada Indonesia Raya, adalah surat kabar itu “memuat tulisan yang dapat merusak kewibawaan nasional dan kepercayaan kepemimpinan nasional”, “dianggap menghasut rakyat”, dan “mengadu domba antara pimpinan”. Baca Edisi Khusus MALARI TEMPO.

    TIM TEMPO

    Berita Malari lainnya
    Hari Ini, 40 Tahun Lalu Jakarta Diamuk Malari
    160 Kilogram Emas Digarong Saat Malari
    Ini Kronologis Malari versi Mahasiswa UI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.