Pengakuan Perwira Polisi Penerima Dana Labora

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gatot Aris Purbaya. radarsorong.com

    Gatot Aris Purbaya. radarsorong.com

    TEMPO.CO, Jayapura - Wakil Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Gatot Aris Purbaya mengakui pernah menerima bantuan dari Brigadir Kepala Labora Sitorus, tersangka pemilik rekening dengan transaksi total senilai Rp 1,5 triliun selama 2007-2012.

    Gatot, yang juga bekas Kepala Kepolisian Resor Kota Sorong, mengaku bersalah karena lalai memantau pergerakan Labora. "Dari segi manajerial saya mengaku salah karena tempatnya Labora berbisnis di Kota Sorong, sementara dia anggota Polres Raja Ampat," kata Gatot, kepada Tempo, di Jayapura, Papua, pekan lalu.

    Awal September lalu, Labora melaporkan ratusan transaksi, baik tunai maupun transfer, yang sudah dia setorkan untuk sejumlah petinggi polisi, kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurut dokumen berjudul "daftar penerima intertain" itu, sejak Januari 2012 hingga April 2013, Labora sudah mengucurkan sedikitnya Rp 10 miliar.

    Labora Sitorus kini mendekam di tahanan Markas Kepolisian Resor Kota Sorong, Papua Barat. Pada 18 Mei 2013 ia ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tindak pidana pencucian uang dengan pokok perkara dugaan penimbunan bahan bakar minyak dan pembalakan kayu ilegal. Pada Jumat 13 September 2013, Kejaksaan Tinggi Papua menyatakan kasusnya sudah lengkap atau P-21.

    Dalam dokumen aliran rekening Labora yang disampaikan ke KPK, terungkap pula Kepala Polres Kota Sorong menerima setoran 18 kali setoran. Nilainya bervariasi antara 2-10 juta. Tiga kepala polres di Papua dicopot dari jabatannya pada 28 Mei lalu sebagai buntut kasus rekening gendut Labora, termasuk Gatot.


    Selanjutnya: Berikut petikan wawancara lengkap dengan Gatot:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wacana Liberalisasi Penerbangan, Pemerintah Undang Maskapai Asing

    Pemerintah membuka wacana liberalisasi penerbangan dengan mengundang maskapai asing untuk mengoperasikan rute domestik demi memperketat kompetisi.