Alfred Simajuntak Diminta Gus Dur Gubah Himne PKB  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komponis lagu nasional, Alfred Simanjuntak (92 tahun) di kediamannya di Bintaro, Jakarta, pertengahan Oktober kemarin. Salah satu lagu nasional ciptaannya  yang terkenal adalah

    Komponis lagu nasional, Alfred Simanjuntak (92 tahun) di kediamannya di Bintaro, Jakarta, pertengahan Oktober kemarin. Salah satu lagu nasional ciptaannya yang terkenal adalah "Bangun Pemudi-Pemuda" yang diciptakan saat ia berusia 23 tahun. TEMPO/Praga Utama

    TEMPO.CO, Jakarta - Selain menjadi guru dan musikus, tidak banyak yang tahu bahwa Alfred pernah menjadi seorang wartawan di Koran Sumber pada 1946-1949 di Jakarta. Dia menceritakan saat itu diajak sahabatnya, Samuel Panjaitan. Dia bekerja di koran tersebut selama tiga tahun. Karier jurnalistiknya terhenti karena Sumber diberedel dan dinilai memberitakan hal yang sensitif pada saat itu. “Waktu itu saya liputan semua bidang, tidak hanya politik,” katanya.

    Banyak pengalaman yang dirasakan Alfred. Dia juga pernah diminta Gus Dur untuk membuat lagu himne untuk PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Lagu tersebut didapat Alfred juga secara mendadak sepulang dari pertemuannya dengan Gus Dur pada 1999.

    “Saya diminta menggubah lagu himne PKB. Saya juga tidak tahu dari mana dia tahu nama saya. Jadi, saya pergi ke rumahnya, ngobrol, pas pulang di perjalanan saya mendapatkan ilham untuk lagu PKB. Proses pembuatannya cepat. Saya dibayar Gus Dur, tapi saya lupa besarannya berapa,” kata Alfred.

    Nama Alfred Simanjuntak tenar karena dialah yang menciptakan lagu Bangun Pemudi Pemuda yang dilantunkan tiap tanggal 28 Oktober dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda. Dia putra pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, anak pertama dari delapan bersaudara.

    Semasa kecil, Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942. Tahun 1954-1956 ia melanjutkan belajar di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland.

    Sejak tahun 1950, ia bekerja tetap di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967, dia turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan pada tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).

    Hingga kini, Alfred sudah menulis sekitar 42 lagu terdiri dari lagu gereja, kebangsaan, bahkan lagu Melayu yang bertajuk Terumbu Karang.

    ALIA FATHIYAH

    Berita Terpopuler:
    Keponakan Miranda Goeltom Gedor Penjara KPK
    Cicak vs Buaya Memanas Lagi, Kini Polri Gugat KPK
    Dirut RNI siap Ungkap Anggota DPR Peminta Upeti

    Dua Hakim Agung Berseteru, Ada Pengusaha Terlibat?

    Berapa Jokowi Kurban? Riya, Tak Perlu Disebut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.