Diperiksa Sebelas Jam, Sopir Anas Lupa Ingatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. ANTARA/Ridhwan Ermalamora

    Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. ANTARA/Ridhwan Ermalamora

    TEMPO.CO, Jakarta --- Priyadi benar-benar kelimpungan setelah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksanya selama 11 jam. Sopir Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum itu pun mengaku lupa akan semua pertanyaan penyidik kepadanya.

    "Waduh, saya lupa, Mas. Tanya saja sama KPK," kata Priyadi, Senin, 24 September 2012. Dia juga mengaku lupa total akan pertanyaan penyidik kepadanya.

    Pemeriksaan Priyadi berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Dengan setelan kemeja putih bergaris, dibalut dengan jaket hitam, Priyadi terus saja berjalan meninggalkan kantor KPK seusai pemeriksaan. Dia sesekali merunduk saat para pewarta mencecarnya ihwal pemeriksaan tersebut.

    Tak ada senyum tergurat dari Priyadi. Dahinya mengerut. Mukanya sedikit pucat. Matanya terlihat sayu.

    Di pinggir Jalan H.R. Rasuna Said, Priyadi dijemput seseorang yang mengendarai sepeda motor. Dia pun meninggalkan kantor KPK tanpa memberikan penjelasan ihwal pemeriksaan tersebut.

    Ini merupakan pemeriksaan kedua terhadap Priyadi. Pada 4 Juli lalu, dia juga diperiksa selama 11 jam. Priyadi juga bungkam seusai pemeriksaan.

    Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., mengatakan Priyadi diperiksa dalam pengusutan proyek Hambalang. Tapi Johan tidak menyebutkan arah penyelidikan kasus tersebut.

    Menurut dia, penyidik KPK saat ini menyelidik secara menyeluruh ihwal proyek Hambalang, di luar proyek fisik berbiaya Rp 1,07 triliun itu. Yang diusut di antaranya adalah soal pengadaan tanah Hambalang dan dugaan suap terkait dengan proyek tersebut.

    "Sekarang masih tahap penyelidikan. Kalau KPK menemukan dua alat bukti yang cukup, tentu akan ditingkatkan ke tahap penyidikan," kata Johan.

    KPK sudah menetapkan seorang tersangka dalam proyek fisik Hambalang, yaitu Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Menteri Pemuda dan Olahraga Deddy Kusdinar. Pejabat pembuat komitmen ini diduga telah menyalahgunakan kewenangan terkait dengan proyek tersebut.

    Adalah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin yang membeberkan keterlibatan Anas dalam kasus Hambalang. Menurut Nazar, Anas terlibat mengurus terbitnya sertifikat Hambalang bersama politikus Partai Demokrat, Ignatius Mulyono. Tudingan ini pernah dibenarkan Mulyono, tapi Anas membantahnya.

    Nazar juga menuding Anas mendapat keuntungan dari proyek itu. Ada uang Rp 50 miliar terkait dengan Hambalang mengalir ke Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010 untuk pemenangan Anas. Di samping itu, Anas diduga mendapat hadiah mobil Toyota Harrier dari PT Adhi Karya, rekanan proyek Hambalang.

    KPK pernah dua kali memeriksa Anas. Anas membenarkan bahwa dia dicecar oleh KPK soal proses penerbitan sertifikat Hambalang dan kepemilikan mobil. Namun Anas menampik semua tuduhan Nazar tersebut. "Itu hanya halusinasi," kata dia kala itu.

    Johan, yang dimintai konfirmasi, mengatakan tidak mengetahui soal materi pemeriksaan Priyadi itu. "Informasi soal materi kasus tidak sampai kepada saya," kata Johan.

    RUSMAN PARAQBUEQ

    Berita lain:
    Kasus Korupsi Proyek Stadion Hambalang

    KPK Kembali Periksa Tiga Saksi Hambalang

    KPK Periksa Manajer Proyek Hambalang Siang Ini

    Pengacara Angie Beri Tausiyah dalam Sidang

    Anas Mengaku Doakan Angie


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.