Minggu, 22 September 2019

Kontras: Ada Pembiaran Polisi di Kasus Sampang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim saat memberikan keterangan pers didampingi Komisioner Komnas HAM Ridha Saleh di Sampang, Jakarta, (28/08). Komnas HAM mendesak Pemerintah mengusut dan menuntaskan bentrok antara kelompok Syiah dan anti Syiah di Sampang, Madura. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim saat memberikan keterangan pers didampingi Komisioner Komnas HAM Ridha Saleh di Sampang, Jakarta, (28/08). Komnas HAM mendesak Pemerintah mengusut dan menuntaskan bentrok antara kelompok Syiah dan anti Syiah di Sampang, Madura. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Surabaya - Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, Andy Irfan Junaidy, mengatakan ada pembiaran oleh pihak kepolisian saat penyerangan warga muslim Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, Ahad lalu. Saat itu, ada empat polisi di lokasi, tapi mereka tak melakukan pencegahan.

    “Dari Desember hingga peristiwa kemarin, setiap warga Syiah melapor, pasti tidak ditanggapi,” kata Andy Irfan kepada Tempo, Selasa malam, 28 Agustus 2012.

    Andy mengatakan, ketika warga muslim Syiah melakukan silaturahmi Lebaran ketupat, mereka melihat ratusan orang bergerombol dan bergerak menuju ke arah mereka. Warga Syiah kemudian menghubungi Kepolisian Sektor Omben dan Kepolisian Resor Sampang, namun tidak ada tanggapan berarti. Hanya beberapa petugas yang datang.

    Ketika melihat penyerangan, menurut Andy, polisi juga hanya diam, tidak meminta bantuan personel dengan jumlah yang lebih besar. “Polisi bilang, hanya untuk pengamanan Lebaran,” kata Andy. Ia menyayangkan polisi baru datang pukul 13.00 setelah kerusuhan selesai. Itu pun dalam jumlah yang sangat sedikit. Aparat dari Kepolisian Daerah Jawa Timur baru datang lengkap di lokasi pukul 15.00.

    Andy menuturkan, bukti-bukti itu menunjukkan bentuk pengabaian oleh kepolisian. Warga sudah melapor sejak Januari dan meminta pengamanan, namun tidak diindahkan. Sejak awal 2012, muslim Syiah sudah sering mendapatkan ancaman dari warga intoleran, baik melalui pesan pendek (SMS) gelap maupun ketika berpapasan di tengah jalan. Warga Syiah sendiri tidak menyangka bahwa ancaman yang sudah setiap hari mereka terima benar-benar terjadi pada Ahad itu.

    Ketua Komisi Nasional HAM Ifdhal Kasim membenarkan keterangan Kontras. Ifdhal juga mendapatkan informasi bahwa massa intoleran itu membawa bom molotov, parang, celurit, dan senjata lain. “Namun kepolisian tidak serius menanggapi hal itu,” ujar Ifdhal.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Komnas, menurut Ifdal, sejak 23-25 Agustus, sejumlah warga telah melakukan sweeping di tiga desa di Kecamatan Omben, Sampang. Mereka melakukan sweeping terhadap setiap warga yang keluar dari tiga desa tersebut. Karena itu, kata Ifdhal, pengumpulan massa yang kemudian berujung pada penyerangan itu bukan tiba-tiba.

    Sekitar 200 warga anti-Syiah menyerbu permukiman milik komunitas Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Ahad, 26 Agustus 2012. Seorang tewas, tujuh lainnya kritis, belasan luka-luka, dan puluhan rumah terbakar.

    SUNDARI

    Terpopuler:
    Kerusuhan Syiah Sampang Direncanakan Jauh Hari

    Yusril: Saya Tak Bermaksud Hina Presiden

    Pemicu Rusuh Sampang: Penyalahgunaan Fanatisme Agama

    Hari Ini Markus Mekeng Resmi Diganti

    Gamawan: Kontrak e-KTP Kemendagri dengan PNRI

    NU: Syiah Tidak Sesat, Hanya Berbeda

    Kerusuhan Sampang, Polisi Dituding Abaikan Warga

    DPR Tuntut Tanggung Jawab Bupati Sampang

    Warga Syiah Emoh Dievakuasi karena Punya Tembakau

    Pelaku Pungutan Liar Calon PNS Terancam Pidana


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe