4 Anggota Polres Halmahera Utara Penganiaya Mahasiswa Sudah Ditahan

Empat anggota Polres Halmahera Utara yang diduga menganiaya seorang mahasiswa karena unggahan status WhatsApp ditahan di rumah tahanan Polres Halmahera Utara selama proses etik dan pidana, Halmahera Utara, Kamis, 6 Oktober 2022 [istimewa]

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Daerah atau Kapolda Maluku Utara Inspektur Jenderal Risyapudin Nursin mengatakan, Bidang Propam Polda Maluku Utara sedang memproses pidana dan etik empat anggota Polres Halmahera Utara yang diduga menganiaya seorang mahasiswa.

Seorang mahasiswa Universitas Halmahera (Uniera) yang diduga menjadi korban penganiayaan itu adalah Yulius Yatu alias Ongen. Ongen dianiaya empat polisi dari Polres Halmahera Utara usai mengunggah ilustrasi polisi memegang anjing pelacak dalam demo BBM naik. Risyapudin Nursin mengatakan berdasarkan pemeriksaan sementara motif empat anggota melakukan penganiayaan karena unggahan medsos korban.

“Untuk sementara masih dilakukan pemeriksaan terkait dengan motif di medsos oleh korban dan saat ini anggota sudah dtahan di Polres Halmahera Utara,” kata Risyapudin saat dihubungi Tempo, Kamis, 6 Oktober 2022.

Dalam kesempatan terpisah, Kapolres Halmahera Utara Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Try Okta mengatakan empat anggota yang melakukan penganiayaan saat ini sudah ditahan di rumah tahanan Polres Halmahera Utara. Mereka saat ini sedang diproses etik dan pidana.

“Untuk perkara pidana ditangani oleh Ditreskrimum Polda Maluku Utara dan terkait kode etik profesinya ditangani oleh Bid propam Polda Maluku Utara,” kata Try Okta.

Okta mengatakan salah satu anggota mengenal korban dan mengetahui unggahan WhatsApp-nya. Pelaku bersama rekannya kemudian mendatangi korban dan menanyakan maksud unggahan. 

“Karena kesal anggota tersebut kemudian menampar korban. Berdasarkan hasil visum ketika korban melaporkan, ditemukan memar pada pipi kiri dan kanan korban,” kata Try Okta.

Sebelumnya, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS bersama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Marimoi mendesak Kapolda Maluku Utara mengusut secara transparan dugaan tindakan penyiksaan terhadap seorang mahasiswa oleh anggota polisi Polres Halmahera Utara.

Mahasiswa atas nama Yulius Yatu alias Ongen diduga disiksa oleh empat aparat kepolisian Polres Halmahera Utara pada tanggal 20 September 2022. Berdasarkan keterangan KontraS, peristiwa ini bermula setelah korban mengkritik kinerja aparat penegak hukum dalam melakukan proses pengamanan aksi massa terkait kenaikan harga BBM melalui status whatsapp korban. 

Selang sehari kemudian, empat orang tidak dikenal datang mencari korban di kediamannya sekitar pukul 21.00 WIT. Keempat pelaku bertanya mengenai identitas sebuah foto kepada korban, kemudian para pelaku tiba-tiba memukul tepat di bagian wajah, korban dicekik, dan dibawa keluar dari rumah menuju jalan umum. 

“Ketika korban diseret, pelaku tetap memukuli korban hingga menyebabkan luka lebam di bawah mata, bibir bagian bawah pecah, dan kembali dicekik hingga korban jatuh pingsan,” kata staf Divisi Hukum KontraS Abimanyu Septiadji dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 6 Oktober 2022.






KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

7 jam lalu

KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

KontraS menilai pasal pelanggaran HAM berat di RKUHP justru mendegradasi kekhususan tindak pidana kemanusiaan yang berat.


Imam Masjid di Bekasi Mendadak Diserang saat Pimpin Salat, Pelaku Diduga Depresi

2 hari lalu

Imam Masjid di Bekasi Mendadak Diserang saat Pimpin Salat, Pelaku Diduga Depresi

Seorang imam masjid di Pondok Gede, Bekasi, didorong dan nyaris dipukul oleh seorang pria yang menjadi makmumnya


Sindir Pemerintah, Aliansi Nasional Reformasi KUHP Luncurkan 'RKUHP: Panduan Mudah #TibaTibaDiPENJARA'

3 hari lalu

Sindir Pemerintah, Aliansi Nasional Reformasi KUHP Luncurkan 'RKUHP: Panduan Mudah #TibaTibaDiPENJARA'

Aliansi Nasional Reformasi KUHP kecewa terhadap pemerintah dan DPR, mereka menolak 48 pasal di RKUHP yang dinilai bermasalah.


Tersangka Penganiayaan 3 Bocah di Musala di Tebet Ditahan, Kesal Anaknya Dipukuli

8 hari lalu

Tersangka Penganiayaan 3 Bocah di Musala di Tebet Ditahan, Kesal Anaknya Dipukuli

AKP Nurma Dewi mengatakan pihaknya telah menetapkan F, 51 tahun sebagai tersangka penganiayaan 3 bocah di musala kawasan Tebet, Jakarta Selatan.


Anggota TNI Disebut-sebut Terlibat Penganiayaan Karyawan Karaoke di Boyolali

9 hari lalu

Anggota TNI Disebut-sebut Terlibat Penganiayaan Karyawan Karaoke di Boyolali

Akibat penganiayaan itu, 6 orang karyawan mengalami luka-luka. Dua di antaranya perempuan yang merupakan kasir.


Viral Video Nenek Dianiaya Pelajar di Sumut, Polisi Tetapkan Dua Orang Tersangka

10 hari lalu

Viral Video Nenek Dianiaya Pelajar di Sumut, Polisi Tetapkan Dua Orang Tersangka

Dalam video, nenek dianiaya dengan tendangan dan pemukulan benda tumpul. Hingga saat ini, polisi belum menahan kedua tersangka.


Prajurit Tewas Diduga Alami Kekerasan di Makoopsud III Biak, TNI AU Tahan 4 Anggota

11 hari lalu

Prajurit Tewas Diduga Alami Kekerasan di Makoopsud III Biak, TNI AU Tahan 4 Anggota

TNI AU telah menahan empat orang prajurit untuk mendalami dugaan kekerasan yang menewaskan Prada Muhammad Indra Wijaya di Makoopsud III, Biak


Prajurit Meninggal Misterius di Makoopsud III Biak, TNI AU Lakukan Pendalaman

12 hari lalu

Prajurit Meninggal Misterius di Makoopsud III Biak, TNI AU Lakukan Pendalaman

Satpom Koopsud III TNI AU Biak, Papua mendalami dugaan kasus kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya seorang prajurit.


8 Temuan Investigasi Kerangkeng Manusia di Langkat: Proses Masuk Korban hingga Disiksa

12 hari lalu

8 Temuan Investigasi Kerangkeng Manusia di Langkat: Proses Masuk Korban hingga Disiksa

Tim Advokasi Penegakan HAM menemukan 8 temuan dalam kasus kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin. Apa saja?


Anak Kombes Dilaporkan ke Polisi dalam Kasus Penganiayaan, Korban Anak-anak, Memar

14 hari lalu

Anak Kombes Dilaporkan ke Polisi dalam Kasus Penganiayaan, Korban Anak-anak, Memar

Anak Kombes dilaporkan dengan pasal tentang perlindungan anak dalam kasus penganiayaan.