3 Perspektif Pemberian Gelar Haji: Keagamaan, Kultural, dan Kolonial

Reporter

Editor

Nurhadi

Jemaah calon haji kloter satu antre menunggu pemeriksaan kesehatan dan pemberian gelang identitas saat tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta, di Pondok Gede, Jakarta, 27 Juli 2017. Mereka akan diberangkatkan pada Jumat dinihari. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak ratusan tahun silam, umat Islam di Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Mereka pulang menyandang gelar haji. Orang-orang mulai membuat perubahan sapaan dan penulisan nama demi kepatutan sosial dan imaji kesalehan. 

Perspektif Keagamaan

Tradisi penyematan gelar haji dapat dilihat dari tiga perspektif. Pertama, secara keagamaan. Haji adalah perjalanan untuk menyempurnakan rukun Islam.

Perjalanan yang jauh dan panjang, biaya yang mahal, persyaratan yang tidak mudah membuat haji menjadi sebuah perjalanan ibadah yang semakin penting dan tidak semua orang bisa lakukan.

“Untuk itulah gelar haji dianggap layak dan terus disematkan bagi mereka yang berhasil melakukannya,” kata antropolog UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dadi Darmadi, seperti dikutip Tempo dari laman kemenag.go.id, Rabu, 24 Juli 2019.

Sejak awal abad ke-20, industri perjalanan haji semakin besar. Sejumlah perusahaan kapal Belanda juga turut serta di dalamnya. Jemaah haji Nusantara pun semakin besar jumlahnya. “Perjalanan haji relatif lebih mudah dan cepat, tapi gelar haji tetap digunakan dan bahkan semakin populer,” katanya.

Perspektif Kultural 

Kedua, secara kultural. Narasi dan cerita-cerita menarik, heroik, dan mengharukan selama berhaji juga terus berkembang menjadi cerita populer sehingga semakin banyak orang tertarik naik haji. Sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat juga bergelar haji.

Cerita-cerita ini terus bersambung hingga kini sehingga menjadi semacam genre tersendiri sebagai memoir. “Hal-hal inilah saya kira yang membuat ibadah haji semakin penting dan gelar haji di Indonesia punya nilai dan status sosial yang tinggi,” kata Dedi.

Perspektif Kolonial

Ketiga, dari perspektif kolonial. Penyematan gelar haji juga punya ceritanya tersendiri. Dulu, karena takut akan pengaruh haji bagi gerakan anti-penjajahan, pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membatasi jemaah haji dengan berbagai cara.

Salah satu caranya adalah membuka Konsulat Jenderal pertama di Arabia pada 1872. Tugas konsulat ini adalah mencatat pergerakan jemaah dari Hindia Belanda, dan mengharuskan mereka memakai gelar dan atribut pakaian haji agar mudah dikenali dan diawasi.

“Itu dari perspektif kolonial. Padahal menurut Snouck Hurgronje, yang meneliti haji, saat itu, jemaah haji tidak layak ditakuti sebagai anti-penjajah,” kata dia.

NAUFAL RIDHWAN ALY

Baca juga: Inilah Alasan Pemerintah Kolonial Beri Gelar Haji ke Orang Indonesia

Baca juga:Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini






Kemenag Berharap Arab Saudi Kaji Ulang Pembatasan Usia Jamaah Haji

3 hari lalu

Kemenag Berharap Arab Saudi Kaji Ulang Pembatasan Usia Jamaah Haji

Pada pelaksanaan haji 2022, Pemerintah Arab Saudi memberlakukan pembatasan usia yakni maksimal 65 tahun.


Menag Sebut Kemungkinan Saudi Bolehkan Jemaah Haji Lansia Tahun Depan

3 hari lalu

Menag Sebut Kemungkinan Saudi Bolehkan Jemaah Haji Lansia Tahun Depan

Pemerintah Arab Saudi sebelumnya tidak membolehkan jemaah haji di atas usia 65 tahun ikut melaksanakan ibadah haji.


Menag Sebut 89 Jemaah Indonesia Wafat dalam Ibadah Haji Tahun Ini

3 hari lalu

Menag Sebut 89 Jemaah Indonesia Wafat dalam Ibadah Haji Tahun Ini

Yaqut menyebut penyelenggaraan ibadah haji tahun ini tidak lepas dari berbagai kekurangan. Masalah keterlambatan katering masih ditemukan.


Nasib Barang Tercecer Milik Jemaah Haji: Dipakai untuk Kepentingan Sosial

15 hari lalu

Nasib Barang Tercecer Milik Jemaah Haji: Dipakai untuk Kepentingan Sosial

Barang tercecer milik jemaah haji di bandara yang tidak bisa dibawa dalam penerbangan ke tanah air tidak akan dimusnahkan.


Dukcapil Serahkan 59 Akta Kematian Jemaah Haji ke Keluarga

18 hari lalu

Dukcapil Serahkan 59 Akta Kematian Jemaah Haji ke Keluarga

Selain akta kematian jemaah haji, Dukcapil menerbitkan kartu keluarga baru, dan KTP elektronik baru bagi suami atau istri yang ditinggal


Mengenal Raudah, Taman Surga di Masjid Nabawi untuk Jemaah Haji dan Umrah

21 hari lalu

Mengenal Raudah, Taman Surga di Masjid Nabawi untuk Jemaah Haji dan Umrah

Saat beribadah umrah maupun haji, setiap jemaah berharap mengunjungi Raudah sebagai bagian dari kunjungannya ke tanah suci.


Jumlah Jemaah Haji Wafat Bertambah Menjadi 73 Orang

23 hari lalu

Jumlah Jemaah Haji Wafat Bertambah Menjadi 73 Orang

Jakarta - Operasional ibadah haji kini memasuki fase pemulangan jemaah haji. Per hari ini, 27.280 jemaah haji reguler sudah tiba di Indonesia. Sebagian lainnya saat ini berada di Makkah untuk menunggu jadwal kepulangan atau pergerakan menuju Madinah. Data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat sampai dengan hari ini, Senin, 25 Juli 2022, total ada 73 jemaah haji Indonesia yang wafat.


Jumlah Jemaah Haji Wafat Bertambah Menjadi 67 Orang

26 hari lalu

Jumlah Jemaah Haji Wafat Bertambah Menjadi 67 Orang

Operasional ibadah haji kini memasuki fase pemulangan. Per hari ini, Jumat, 22 Juli 2022, 20 ribu jemaah haji reguler sudah tiba di Indonesia.


Menkes Bicara Peningkatan Covid-19 Terkini, Jemaah Haji dan Level 1 WHO

27 hari lalu

Menkes Bicara Peningkatan Covid-19 Terkini, Jemaah Haji dan Level 1 WHO

Dari mereka yang pulang dari ibadah haji juga masuk kasus positif Covid-19 yang baru.


Tiba di Depok, 404 Jemaah Haji Langsung Tes Swab di Dalam Bus dan Dianjurkan Karantina

27 hari lalu

Tiba di Depok, 404 Jemaah Haji Langsung Tes Swab di Dalam Bus dan Dianjurkan Karantina

Setelah swab antigen ini, para jemaah haji tetap dianjurkan melakukan karantina mandiri meski hasil tes negatif.